Sekolah itu pendidikan, bukan kekerasan

16 Juli 2009 pukul 2:56 PM | Ditulis dalam Berita Terkini | 1 Komentar

surabaya ada anak SMA yang meninggal saat mengikuti MOS. kenapa sampai saat ini masih banyak adik-adik kita yang meninggal saat ada pengenalan sekolah. sebenarnya apa yang salah?

Diduga Stres, Siswa Meninggal saat MOS
SURABAYA – Masa orientasi siswa (MOS) di SMAN 16 Surabaya kemarin meninggalkan kisah tragis. Roy Adiyta Perkasa, 15, siswa baru dari SMPN 35 Surabaya, meninggal ketika mengikuti acara pengenalan siswa terhadap kondisi di sekolah barunya tersebut.

Putra pasangan Saidi dan Mulyantini tersebut meninggal sekitar pukul 14.00. Roy mengembuskan napas terakhir saat dalam perjalanan dari RS Islam (RSI) Jemursari menuju RSUD dr Soetomo.

Diperkirakan, dia meninggal karena tekanan mental yang luar biasa saat MOS, di samping kondisi fisiknya yang kecapaian. Hingga tadi malam pukul 20.30, jenazah Roy masih diotopsi menyeluruh di Instalasi Kedokteran Forensik (IKF) RSUD dr Soetomo.

Sampai pukul 19.00, suasana kamar mayat IKF RSUD Soetomo penuh keharuan. Mulyantini, ibu Roy, menangis tersedu-sedu. Sesekali perempuan berusia 50 tahun tersebut berteriak-teriak histeris. ”Masak agar orang pintar harus memakan korban seperti ini,” ucapnya berkali-kali.

”Pak Sahudi… Pak Sahudi (Kadispendik, Red), bagaimana ini?” ujar warga Jalan Flamboyan AH No 16, Wisma Tropodo, tersebut.

Kerabat Roy harus memegangi tubuh perempuan berjilbab yang terus meronta-ronta tersebut. Tak lama kemudian, Mulyantini tak sadar diri. Bahkan, dia harus dibantu berdiri dan dibopong oleh beberapa orang karena tidak kuat berjalan pulang.

Sementara itu, Saidi, ayah Roy, juga begitu terpukul. Tampak aura kesedihan yang sangat dalam pada wajah pria 60 tahun tersebut. ”Saya ikhlas, kalau memang ini sudah kehendak Tuhan,” ucapnya.

Dia menceritakan bahwa riwayat kesehatan Roy selama ini sangat baik. Seumur hidup, anaknya yang pada 22 September nanti genap berusia 16 tahun itu tidak pernah sakit parah. Roy juga tidak pernah menginap di rumah sakit karena sakit.

Saidi menduga anaknya meninggal karena stres berat. Sebab, MOS di SMAN 16 sangat menguras pikiran anak bungsunya tersebut. Meski Roy dalam tiga hari ini tidak pernah mengeluh kesakitan, Saidi merasakan betul anaknya tersebut mengalami tekanan mental yang sangat berat. ”Anak saya tidak pernah mengeluh. Tapi, saya tahu dia capek luar biasa,” ujarnya.

Banyak hal yang mendasari hal itu. Menurut Saidi, anaknya harus mempersiapkan dan membawa berbagai macam barang untuk MOS hari terakhir kemarin. Roy, kata dia, sangat stres ketika diberi tugas mencari bermacam perlengkapan acara api unggun. Di antaranya, kayu bakar, air mineral berkapasitas 660 cc, kembang api, dan toples transparan plus minyak tanah.

Belum lagi, dia harus terjaga semalaman karena tugas membuat biografi tokoh dan tugas menulis lain seperti surat cinta. Jumlah tugas tulisan itu berlembar-lembar. ”Tugas-tugas itulah yang menekan mental anak saya dengan berat,” tegas Saidi.

Seorang kolega Roy yang enggan namanya disebutkan bahkan mengungkapkan bahwa Roy tidak boleh memakan nasi selama tiga hari mengikuti MOS di sekolah tersebut. Dia hanya diperbolehkan makan mi dan telur dadar. ”Tapi, dia tidak mengeluh kecapaian,” katanya.

Saidi dan Mulyantini sangat shock ketika pihak sekolah menelepon dan mengabari bahwa Roy ambruk. Roy diwartakan pingsan tak sadar diri ketika sesi ceramah dalam kegiatan tersebut. Keluarga Roy lantas merujuk anak itu ke RSI Jemursari. Ternyata, RS tersebut mengaku tidak mampu menangani Roy. Pihak RS lantas menyarankan agar keluarga merujuk Roy ke RSUD dr Soetomo.

”Dalam perjalanan itulah anak saya meninggal. Pihak sekolah meminta anak saya langsung dibawa ke rumah. Tapi, istri saya tidak mau. Dia ingin otopsi. Istri saya ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya pada anak saya,” ujar Saidi. Suara lelaki itu bergetar.

Menurut sumber Jawa Pos di IKF RSUD dr Soetomo, sangat mungkin Roy meninggal karena pembuluh darah di otaknya pecah. Hal itu terjadi karena dia mengalami tekanan mental yang sangat besar.

”Selaput darahnya rapuh. Sangat mungkin, kalau terkena tekanan besar, selaput itu akan pecah,” ucap dokter spesialis forensik tersebut. ”Tapi, kami harus melakukan otopsi menyeluruh dulu untuk mengetahui hasil pastinya,” lanjutnya.

Beberapa orang penting Surabaya menyempatkan datang ke RSUD dr Soetomo. Di antaranya, Kepala Dinas Kesehatan Esty Martiana Rachmie dan Kapolsek Surabaya Timur AKBP Samudi. Kepala Dinas Pendidikan Sahudi juga mengunjungi kamar mayat pukul 20.00.

”Kami pasti akan mengusut tuntas masalah ini. Kita tunggu saja hasil forensiknya,” kata AKBP Samudi.

Sahudi mengungkapkan, MOS adalah arena pendidikan, bukan ajang kekerasan. ”Saya belum tahu prosesnya. Yah kita lihat nantilah,” ucapnya pendek. (nur/dan/kuh/alb/ari)

Iklan

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Greetings! I’ve been following your weblog for a while now and finally got the bravery to go ahead and give you a shout out from Dallas Tx! Just wanted to mention keep up the good work!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: