Sejarah Hidup Nabi Muhammad

7 April 2009 pukul 10:38 AM | Ditulis dalam nabi muhammad | Tinggalkan komentar
Tag:

BAGIAN KEDUA: MEKAH, KA’BAH DAN QURAISY (3/4)
Muhammad Husain Haekal

Seperti ayahnya, Abd’d-Dar juga telah memegang pimpinan Ka’bah
dan kemudian diteruskan oleh anak-anaknya. Akan tetapi
anak-anak Abd Manaf sebenarnya mempunyai kedudukan yang lebih
baik dan terpandang juga di kalangan masyarakatnya. Oleh
karena itu, anak-anak Abd Manaf, yaitu Hasyim, Abd Syams,
Muttalib dan Naufal sepakat akan mengambil pimpinan yang ada
di tangan sepupu-sepupu mereka itu. Tetapi pihak Quraisy
berselisih pendapat: yang satu membela satu golongan yang lain
membela golongan yang lain lagi.

Keluarga Abd Manaf mengadakan Perjanjian Mutayyabun dengan
memasukkan tangan mereka ke dalam tib, (yaitu bahan
wangi-wangian) yang dibawa ke dalam Ka’bah. Mereka bersumpah
takkan melanggar janji. Demikian juga pihak Keluarga Abd,d-Dar
mengadakan pula Perjanjian Ahlaf: Antara kedua golongan itu
hampir saja pecah perang yang akan memusnakan Quraisy, kalau
tidak cepat-cepat diadakan perdamaian. Keluarga Abd Manaf
diberi bagian mengurus persoalan air dan makanan, sedangkan
kunci, panji dan pimpinan rapat di tangan Keluarga Abd’d-Dar.
Kedua belah pihak setuju, dan keadaan itu berjalan tetap
demikian, sampai pada waktu datangnya Islam.

Hasyim termasuk pemuka masyarakat dan orang yang berkecukupan.
Dialah yang memegang urusan air dan makanan. Dia mengajak
masyarakatnya seperti yang dilakukan oleh Qushayy kakeknya,
yaitu supaya masing-masing menafkahkan hartanya untuk memberi
makanan kepada pengunjung pada musim ziarah. Pengunjung
Baitullah, tamu Tuhan inilah yang paling berhak mendapat
penghormatan. Kenyataannya memang para tamu itu diberi makan
sampai mereka pulang kembali.

Peranan yang dipegang Hasyim tidak hanya itu saja, bahkan
jasanya sampai ke seluruh Mekah. Pernah terjadi musim tandus,
dia datang membawakan persediaan makanan, sehingga kembali
penduduk itu menghadapi hidupnya dengan wajah berseri. Hasyim
jugalah yang membuat ketentuan perjalanan musim, musim dingin
dan musim panas. Perjalanan musim dingin ke Yaman, dan
perjalanan musim panas ke Suria.

Dengan adanya semua kenyataan ini keadaan Mekah jadi
berkembang dan mempunyai kedudukan penting di seluruh jazirah,
sehingga ia dianggap sebagai ibukota yang sudah diakui. Dengan
perkembangan serupa itu tidak ragu-ragu lagi anak-anak Abd
Manaf membuat perjanjian perdamaian dengan
tetangga-tetangganya. Hasyim sendiri membuat perjanjian
sebagai tetangga baik dan bersahabat dengan Imperium Rumawi
dan dengan penguasa Ghassan. Pihak Rumawi mengijinkan
orang-orang Quraisy memasuki Suria dengan aman. Demikian juga
Abd Syams membuat pula perjanjian dagang dengan Najasyi
(Negus). Selanjutnya Naufal dan Muttalib juga membuat
persetujuan dengan Persia dan perjanjian dagang dengan pihak
Himyar di Yaman.

Mekah sekarang bertambah kuat dan bertambah makmur. Demikian
pandainya penduduk kota itu dalam perdagangan sehingga tak ada
pihak lain yang semasa yang dapat menyainginya. Rombongan
kafilah datang ke tempat itu dari segenap penjuru dan
berangkat lagi pada musim dingin dan musim panas. Di sekitar
tempat itu didirikan pasar-pasar guna menjalankan perdagangan
itu. Itu pula sebabnya mereka jadi cekatan sekali dalam
utang-piutang dan riba serta segala sesuatu yang berhubungan
dengan perdagangan. Tak ada yang teringat akan menyaingi
Hasyim yang kini sudah makin lanjut usianya itu dalam
kedudukannya sebagai penguasa Mekah. Hanya kemudian terbayang
oleh Umayya anak Abd Syams -sepupunya – bahwa sudah tiba
masanya kini ia akan bersaing. Tetapi dia tidak berdaya, dan
kedudukan itu tetap dipegang Hasyim. Sementara itu Umayya
telah meninggalkan Mekah dan selama sepuluh tahun tinggal di
Suria.

Pada suatu ketika dalam perjalanan pulang dari Suria, ketika
Hasyim melalui Jathrib dilihatnya seorang wanita baik-baik dan
terpandang, muncul di tengah-tengah orang yang sedang
mengadakan perdagangan dengan dia. Wanita itu ialah Salma anak
‘Amr dari kabilah Khazraj. Hasyim merasa tertarik.
Ditanyakannya, adakah ia sedang dalam ikatan dengan laki-laki
lain? Setelah diketahui bahwa dia seorang janda dan tidak mau
kawin lagi kecuali bila ia memegang kebebasan sendiri, Hasyim
lalu melamarnya. Dan wanita itupun menerima, karena dia
mengetahui kedudukan Hasyim di tengah-tengah masyarakatnya.

Beberapa waktu lamanya ia tinggal di Mekah dengan suaminya.
Kemudian ia kembali ke Jathrib. Di kota ini ia melahirkan
seorang anak yang diberi nama Syaiba.

Beberapa tahun kemudian dalam suatu perjalanan musim panas ke
Ghazza (Gaza). Hasyim meninggal dunia. Kedudukannya digantikan
oleh adiknya, Muttalib. Sebenarnya Muttalib ini masih adik Abd
Syams. Tetapi dia sangat dihormati oleh masyarakatnya. Karena
sikapnya yang suka menenggang dan murah hati oleh Quraisy ia
dijuluki Al-Faidz’, (“Yang melimpah”). Dengan keadaan Muttalib
yang demikian itu di tengah-tengah masyarakatnya, sudah tentu
segalanya akan berjalan tenteram sebagaimana mestinya.

Pada suatu hari terpikir oleh Muttalib akan kemenakannya, anak
Hasyim itu. Ia pergi ke Jathrib. Dan karena anak itu sudah
besar, dimintanya kepada Salma supaya anaknya itu diserahkan
kepadanya. Oleh Muttalib dibawanya pemuda itu ke atas untanya
dan dengan begitu ia memasuki Mekah. Orang-orang Quraisy
menduga bahwa yang dibawa itu budaknya. Oleh karena itu mereka
lalu memanggilnya: Abd’l Muttalib (Budak Muttalib). “Hai,”
kata Muttalib. “Dia kemenakanku anak Hasyim yang kubawa dari
Jathrib.” Tetapi sebutan itu sudah melekat pada pemuda
tersebut. Orang sudah memanggilnya demikian dan nama Syaiba
yang diberikan ketika dilahirkan sudah dilupakan orang.

Pada mulanya Muttalib ingin sekali mengembalikan harta Hasyim
untuk kemenakannya. Tetapi Naufal menolak, lalu menguasainya.
Sesudah Abd’l-Muttalib mempunyai kekuatan ia meminta bantuan
kepada saudara-saudara ibunya di Jathrib terhadap tindakan
saudara ayahnya itu dengan maksud supaya miliknya dikembalikan
kepadanya. Untuk memberikan bantuan itu pihak Khazraj di
Jathrib mengirimkan delapan puluh orang pasukan perang. Dengan
demikian Naufal terpaksa mengembalikan harta itu.

Sekarang Abd’l-Muttalib sudah menempati kedudukan Hasyim.
Sesudah pamannya Muttalib, dialah yang mengurus pembagian air
dan persediaan makanan. Dalam mengurus dua jabatan ini
terutama urusan air – ia menemui kesulitan yang tidak sedikit.
Sampai saat itu anaknya hanyalah seorang, yaitu Harith. Sedang
persediaan air untuk tamu – sejak terserapnya sumur Zamzam
didatangkan dari beberapa sumur yang terpencar-pencar sekitar
Mekah, yang kemudian diletakkan di sebuah kolam di dekat
Ka’bah. Anak yang banyak itu akan merupakan bantuan besar dan
memudahkan pekerjaan serupa ini serta pengawasannya sekaligus.
Sebaliknya, kalau Abd’l-Muttalib harus memikul jabatan
penyediaan air dan makanan sedang anak hanya Harith
satu-satunya, tentu hal ini akan terasa berat sekali. Ini
jugalah yang lama menjadi pikiran.

Orang-orang Arab masih selalu ingat kepada sumur Zamzam yang
telah dicetuskan oleh Mudzadz bin Amr beberapa abad yang lalu.
Menjadi harapan mereka selalu andaikata sumur itu masih tetap
ada. Dan sesuai dengan kedudukannya Abd’l-Muttalib pun tentu
lebih banyak lagi memikirkan dam mengharapkan hal itu.
Demikian kerasnya keinginan itu hingga terbawa dalam tidurnya
seolah ada suara gaib menyuruhnya menggali kembali sumur yang
pernah menyembur di kaki Ismail neneknya dulu itu. Demikian
mendesaknya suara itu dengan menunjukkan sekali letak sumur
itu. Dan diapun memang gigih sekali ingin mencari letak Zamzam
tersebut, sampai achirnya diketemukannya juga, yaitu terletak
antara dua patung: Isaf dan Na’ila.

Ia terus mengadakan penggalian, dibantu oleh anaknya, Harith.
Waktu itu tiba-tiba air membersit dan dua pangkal pelana emas
dan pedang Mudzadz mulai tampak. Sementara itu orang-orang
lalu mau mencampuri Abd’l-Muttalib dalam urusan sumur itu
serta apa yang terdapat di dalamnya. Akan tetapi
Abd’l-Muttalib berkata:

“Tidak! Tetapi marilah kita mengadakan pembagian, antara aku
dengan kamu sekalian. Kita mengadu nasib dengan permainan
qid-h (anak panah). Dua anak panah buat Ka’bah, dua buat aku
dan dua buat kamu. Kalau anak panah itu keluar, ia mendapat
bagian, kalau tidak, dia tidak mendapat apa-apa.”

Usul ini disetujui. Lalu anak-anak panah itu diberikan kepada
juru qid-h yang biasa melakukan itu di tempat Hubal di
tengah-tengah Ka’bah. Anak panah Quraisy ternyata tidak
keluar. Sekarang pedang-pedang itu buat Abd’l-Muttalib dan dua
buah pangkal pelana emas buat Ka’bah. Pedang-pedang itu oleh
Abd’l-Muttalib dipasang di pintu Ka’bah, sedang kedua pelana
emas dijadikan perhiasan dalam Rumah Suci itu. Abd’l Muttalib
meneruskan tugasnya mengurus air untuk keperluan tamu, sesudah
sumur Zamzam dapat berjalan lancar.

Karena tidak banyak anak, Abd’l-Muttalib di tengah-tengah
masyarakatnya sendiri itu merasa kekurangan tenaga yang akan
dapat membantunya. Ia bernadar; kalau sampai beroleh sepuluh
anak laki-laki kemudian sesudah besar-besar tidak beroleh anak
lagi seperti ketika ia menggali sumur Zamzam dulu, salah
seorang di antaranya akan disembelih di Ka’bah sebagai kurban
untuk Tuhan. Tepat juga anaknya yang laki-laki akhirnya
mencapai sepuluh orang dan takdirpun menentukan pula sesudah
itu tidak beroleh anak lagi.

Dipanggilnya semua anak-anaknya dengan maksud supaya dapat
memenuhi nadarnya. Semua patuh. Sebagai konsekwensi
kepatuhannya itu setiap anak menuliskan namanya masing-masing
di atas qid-h (anak panah). Kemudian semua itu diambilnya oleh
Abd’l-Muttalib dan dibawanya kepada juru qid-h di tempat
berhala Hubal di tengah-tengah Ka’bah.

Apabila sedang menghadapi kebingungan yang luarbiasa,
orang-orang Arab masa itu lalu minta pertolongan juru qid-h
supaya memintakan kepada Maha Dewa Patung itu dengan jalan
(mengadu nasib) melalui qid-h. Abdullah bin Abd’l-Muttalib
adalah anaknya yang bungsu dan yang sangat dicintai.

Setelah juru qid-h mengocok anak panah yang sudah dicantumi
nama-nama semua anak-anak yang akan menjadi pilihan dewa Hubal
untuk kemudian disembelih oleh sang ayah, maka yang keluar
adalah nama Abdullah. Dituntunnya anak muda itu oleh
Abd’l-Muttalib dan dibawanya untuk disembelih ditempat yang
biasa orang-orang Arab melakukan itu di dekat Zamzam yang
terletak antara berhala Isaf dengan Na’ila.

Tetapi saat itu juga orang-orang Quraisy serentak sepakat
melarangnya supaya jangan berbuat, dan atas pembatalan itu
supaya memohon ampun kepada Hubal. Sekalipun mereka begitu
mendesak, namun Abd’l-Muttalib masih ragu-ragu juga.
Ditanyakannya kepada mereka apa yang harus diperbuat supaya
sang berhala itu berkenan. Mughira bin Abdullah dari suku
Makhzum berkata: “Kalau penebusannya dapat dilakukan dengan
harta kita, kita tebuslah.”

Setelah antara mereka diadakan perundingan, mereka sepakat
akan pergi menemui seorang dukun di Jathrib yang sudah biasa
memberikan pendapat dalam hal semacam ini. Dalam pertemuan
mereka dengan dukun wanita itu kepada mereka dimintanya supaya
menangguhkan sampai besok.

“Berapa tebusan yang ada pada kalian?” tanya sang dukun.

“Sepuluh ekor unta.”

“Kembalilah ke negeri kamu sekalian,” kata dukun itu.
“Sediakanlah tebusan sepuluh ekor unta. Kemudian keduanya itu
diundi dengan anak panah. Kalau yang keluar itu atas nama anak
kamu, ditambahlah jumlah unta itu sampai dewa berkenan.”

Merekapun menyetujui.

Setelah yang demikian ini dilakukan ternyata anak panah itu
keluar atas nama Abdullah juga. Ditambahnya jumlah unta itu
sampai mencapai jumlah seratus ekor. Ketika itulah anak panah
keluar atas nama unta itu. Sementara itu orang-orang Quraisy
berkata kepada Abd’l-Muttalib – yang sedang berdoa kepada
tuhannya: “Tuhan sudah berkenan.”

“Tidak,” kata Abd’l-Muttalib. “Harus kulakukan sampai tiga
kali.” Tetapi sampai tiga kali dikocok anak panah itupun tetap
keluar atas nama unta itu juga. Barulah Abd’l-Muttalib merasa
puas setelah ternyata sang dewa berkenan. Disembelihnya unta
itu dan dibiarkannya begitu tanpa dijamah manusia atau
binatang.

Dengan begitu itulah buku-buku biografi melukiskan.
Digambarkannya beberapa macam adat-istiadat orang Arab,
kepercayaan serta cara-cara mereka melakukan upacara
kepercayaan itu. Hal ini menunjukkan sekaligus betapa mulianya
kedudukan Mekah dengan Rumah Sucinya itu di tengah-tengah
tanah Arab. At-Tabari menceritakan – sehubungan dengan kisah
penebusan ini – bahwa pernah ada seorang wanita Islam bernadar
bahwa bila maksudnya terlaksana dalam melakukan sesuatu, ia
akan menyembelih anaknya. Ternyata kemudian maksudnya
terkabul. Ia pergi kepada Abdullah bin Umar. Orang ini tidak
memberikan pendapat. Kemudian ia pergi kepada Abdullah bin
Abbas yang ternyata memberikan fatwa supaya ia menyembelih
seratus ekor unta, seperti halnya dengan penebusan Abdullah
anak Abd’l-Muttalib. Tetapi Marwan – penguasa Medinah ketika
itu – merasa heran sekali setelah mengetahui hal itu. “Nadar
tidak berlaku dalam suatu perbuatan dosa,” katanya.

Kedudukan Mekah dengan status Rumah Sucinya itu menyebabkan
beberapa daerah lain yang jauh-jauh juga membuat rumah-rumah
ibadat sendiri-sendiri, dengan maksud mengalihkan perhatian
orang dari Mekah dan Rumah Sucinya. Di Hira pihak Ghassan
mendirikan rumah suci, Abraha al-Asyram membangun rumah suci
di Yaman. Tetapi bagi orang Arab itu tak dapat menggantikan
Rumah Suci yang di Mekah, juga tak dapat memalingkan mereka
dari Kota Suci itu. Bahkan sampai demikian rupa Abraha
menghiasi rumah sucinya yang di Yaman, dengan membawa
perlengkapan yang paling mewah yang kira-kira akan menarik
orang-orang Arab – bahkan orang-orang Mekah sendiri – ke
tempat itu.

Akan tetapi setelah ternyata bahwa tujuan orang-orang Arab itu
hanya Rumah Purba itu juga, dan orang-orang Yaman sendiripun
meninggalkan rumah yang dibangunnya itu serta menganggap
ziarah mereka tidak sah kalau tidak ke Mekah, maka sekarang
tak ada jalan lain bagi penguasa Negus itu kecuali ia harus
menghancurkan rumah Ibrahim dan Ismail itu. Dengan pasukan
yang besar didatangkan dari Abisinia dia sudah mempersiapkan
perang dan dia sendiri di depan sekali di atas seekor gajah
besar.

Tatkala pihak Arab mendengar hal itu, besar sekali
kekuatirannya akan akibat yang mungkin ditimbulkan karenanya.
Suatu hal yang luarbiasa bagi mereka, kedatangan seorang
laki-laki Abisinia akan menghancurkan rumah suci mereka dan
tempat berhala-berhala mereka. Seorang laki-laki bernama
Dhu-Nafar – salah seorang bangsawan dan terpandang di Yaman –
tampil ke depan mengerahkan masyarakatnya dan orang Arab
lainnya yang bersedia berjuang melawan Abraha serta maksudnya
yang hendak menghancurkan Baitullah. Tetapi dia tak dapat
menghalangi Abraha. Malah dia sendiri terpukul dan menjadi
tawanan. Nasib yang demikian itu juga yang menimpa Nufail bin
Habib al-Khath’ami ketika ia mengerahkan masyarakatnya dari
kabilah Syahran dan Nahis, malah dia sendiri yang tertawan,
yang kemudian menjadi anggota pasukannya dan menjadi penunjuk
jalan. Ketika Abraha sampai di Ta’if penduduk tempat itu
mengatakan, bahwa rumah suci mereka bukanlah rumah suci yang
dimaksudkan Abraha. Itu adalah rumah Lat. Kemudian ia diantar
oleh orang-orang yang bersedia menunjukkan jalan ke Mekah.

Bila Abraha sudah mendekati Mekah dikirimnya pasukan berkuda
sebagai kurir. Dari Tihama mereka dapat membawa harta benda
Quraisy dan yang lain-lain, di antaranya seratus ekor unta
kepunyaan Abd’l-Muttalib bin Hasyim. Pada mulanya orang-orang
Quraisy bermaksud mengadakan perlawanan. Tapi kemudian
berpendapat, bahwa mereka takkan mampu. Sementara itu Abraha
sudah mengirimkan salah seorang pengikutnya sebagai utusan
bernama Hunata dan Himyar untuk menemui pemimpin Mekah. Ia
diantar menghadap Abd’l-Muttalib bin Hasyim, dan kepadanya ia
menyampaikan pesan Abraha, bahwa kedatangannya bukan akan
berperang melainkan akan menghancurkan Baitullah. Kalau Mekah
tidak mengadakan perlawanan tidak perlu ada pertumpahan darah.

Begitu Abd’l-Muttalib mendengar, bahwa mereka tidak bermaksud
berperang, ia pergi ke markas pasukan Abraha bersama Hunata,
bersama anak-anaknya dan beberapa pemuka Mekah lainnya.
Kedatangan delegasi Abd’l-Muttalib ini disambut baik oleh
Abraha, dengan menjanjikan akan mengembalikan unta
Abd’l-Muttalib. Akan tetapi segala pembicaraan mengenai Ka’bah
serta supaya menarik kembali maksudnya yang hendak
menghancurkan tempat suci itu ditolaknya belaka. Juga tawaran
delegasi Mekah yang akan mengalah sampai sepertiga harta
Tihama baginya, ditolak. Abd’l-Muttalib dan rombongan kembali
ke Mekah. Dinasehatkannya supaya orang meninggalkan tempat itu
dan pergi ke lereng-lereng bukit, menghindari Abraha dan
pasukannya yang akan memasuki kota suci dan menghancurkan
Rumah Purba itu.
(bersambung ke bagian 4/4)

———————————————
S E J A R A H H I D U P M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980

Seri PUSTAKA ISLAM No.1

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: