Sejarah Hidup Muhammad – 5

7 April 2009 pukul 11:36 AM | Ditulis dalam nabi muhammad | Tinggalkan komentar

BAGIAN KELIMA: DARI MASA KERASULAN SAMPAI ISLAMNYA UMAR (4/4)
Muhammad Husain Haekal

Kedua orang utusan itu ialah ‘Amr bin’l-‘Ash dan Abdullah bin
Abi Rabi’a. Kepada Najasyi dan kepada para pembesar istana
mereka mempersembahkan hadiah-hadiah dengan maksud supaya
mereka sudi mengembalikan orang-orang yang hijrah dari Mekah
itu kepada mereka.

“Paduka Raja,” kata mereka, “mereka datang ke negeri paduka
ini adalah budak-budak kami yang tidak punya malu. Mereka
meninggalkan agama bangsanya dan tidak pula menganut agama
paduka; mereka membawa agama yang mereka ciptakan sendiri,
yang tidak kami kenal dan tidak juga paduka. Kami diutus
kepada paduka oleh pemimpin-pemimpin masyarakat mereka, oleh
orang-orang tua, paman mereka dan keluarga mereka sendiri,
supaya paduka sudi mengembalikan orang-orang itu kepada
mereka. Mereka lebih mengetahui betapa orang-orang itu
mencemarkan dan memaki-maki.”

Sebenarnya kedua utusan itu telah mengadakan persetujuan
dengan pembesar-pembesar istana kerajaan, setelah mereka
menerima hadiah-hadiah dari penduduk Mekah, bahwa mereka akan
membantu usaha mengembalikan kaum Muslimin itu kepada pihak
Quraisy. Pembicaraan mereka ini tidak sampai diketahui raja.
Tetapi baginda menolak sebelum mendengar sendiri keterangan
dari pihak Muslimin. Lalu dimintanya mereka itu datang
menghadap

“Agama apa ini yang sampai membuat tuan-tuan meninggalkan
masyarakat tuan-tuan sendiri, tetapi tidak juga tuan-tuan
menganut agamaku, atau agama lain?” tanya Najasyi setelah
mereka datang.

Yang diajak bicara ketika itu ialah Ja’far b. Abi b. Talib.

“Paduka Raja,” katanya, “ketika itu kami masyarakat yang
bodoh, kami menyembah berhala, bangkaipun kami makan, segala
kejahatan kami lakukan, memutuskan hubungan dengan kerabat,
dengan ketanggapun kami tidak baik; yang kuat menindas yang
lemah. Demikian keadaan kami, sampai Tuhan mengutus seorang
rasul dari kalangan kami yang sudah kami kenal asal-usulnya,
dia jujur, dapat dipercaya dan bersih pula. Ia mengajak kami
menyembah hanya kepada Allah Yang Maha Esa, dan meninggalkan
batu-batu dan patung-patung yang selama itu kami dan
nenek-moyang kami menyembahnya. Ia menganjurkan kami untuk
tidak berdusta untuk berlaku jujur serta mengadakan hubungan
keluarga dan tetangga yang baik, serta menyudahi pertumpahan
darah dan perbuatan terlarang lainnya. Ia melarang kami
melakukan segala kejahatan dan menggunakan kata-kata dusta,
memakan harta anak piatu atau mencemarkan wanita-wanita yang
bersih. Ia minta kami menyembah Allah dan tidak
mempersekutukanNya. Selanjutnya disuruhnya kami melakukan
salat, zakat dan puasa. [Lalu disebutnya beberapa ketentuan
Islam]. Kami pun membenarkannya. Kami turut segala yang
diperintahkan Allah. Lalu yang kami sembah hanya Allah Yang
Tunggal, tidak mempersekutukan-Nya dengan apa dan siapa pun
juga. Segala yang diharamkan kami jauhi dan yang dihalalkan
kami lakukan. Karena itulah, masyarakat kami memusuhi kami,
menyiksa kami dan menghasut supaya kami meninggalkan agama
kami dan kembali menyembah berhala; supaya kami membenarkan
segala keburukan yang pernah kami lakukan dulu. Oleh karena
mereka memaksa kami, menganiaya dan menekan kami, mereka
menghalang-halangi kami dari agama kami, maka kamipun keluar
pergi ke negeri tuan ini. Tuan jugalah yang menjadi pilihan
kami. Senang sekali kami berada di dekat tuan, dengan harapan
di sini takkan ada penganiayaan.”

“Adakah ajaran Tuhan yang dibawanya itu yang dapat tuan-tuan
bacakan kepada kami?” tanya Raja itu lagi.

“Ya,” jawab Ja’far; lalu ia membacakan Surah Mariam dari
pertama sampai pada firman Allah:

“Lalu ia memberi isyarat menunjuk kepadanya. Kata mereka:
Bagaimana kami akan bicara dengan anak yang masih muda belia?
Dia (Isa) berkata: ‘Aku adalah hamba Allah, diberiNya aku
Kitab dan dijadikanNya aku seorang nabi. DijadikanNya aku
pembawa berkah dimana saja aku berada, dan dipesankanNya
kepadaku melakukan sembahyang dan zakat selama hidupku. Dan
berbaktilah aku kepada ibuku, bukan dijadikanNya aku orang
congkak yang celaka. Bahagialah aku tatkala aku dilahirkan,
tatkala aku mati dan tatkala aku hidup kembali!'” (Qur’an 19:
29-33)

Setelah mendengar bahwa keterangan itu membenarkan apa yang
tersebut dalam Injil, pemuka-pemuka istana itu terkejut:
“Kata-kata yang keluar dari sumber yang mengeluarkan kata-kata
Yesus Kristus'” kata mereka.

Najasyi lalu berkata: “Kata-kata ini dan yang dibawa oleh
Musa, keluar dari sumber cahaya yang sama. Tuan-tuan (kepada
kedua orang utusan Quraisy) pergilah. Kami takkan menyerahkan
mereka kepada tuan-tuan!”

Keesokan harinya ‘Amr bin’l-‘Ash kembali menghadap Raja dengan
mengatakan, bahwa kaum Muslimin mengeluarkan tuduhan yang
luarbiasa terhadap Isa anak Mariam. Panggillah mereka dan
tanyakan apa yang mereka katakan itu.

Setelah mereka datang, Ja’far berkata: Tentang dia pendapat
kami seperti yang dikafakan Nabi kami: ‘Dia adalah hamba Allah
dan UtusanNya, RuhNya dan FirmanNya yang disampaikan kepada
Perawan Mariam.”

Najasyi lalu mengambil sebatang tongkat dan menggoreskannya di
tanah. Dan dengan gembira sekali baginda berkata:

“Antara agama tuan-tuan dan agama kami sebenarnya tidak lebih
dari garis ini.”

Setelah dari kedua belah pihak itu didengarnya, ternyatalah
oleh Najasyi, bahwa kaum Muslimin itu mengakui Isa, mengenal
adanya Kristen dan menyembah Allah.

Selama di Abisinia itu kaum Muslimin merasa aman dan tenteram.
Ketika kemudian disampaikan kepada mereka, bahwa permusuhan
pihak Quraisy sudah berangsur reda, mereka lalu kembali ke
Mekah untuk pertama kalinya – dan Muhammadpun masih di Mekah.

Akan tetapi, setelah kemudian ternyata, bahwa penduduk Mekah
masih juga mengganggunya dan mengganggu sahabat-sahabatnya,
merekapun kembali lagi ke Abisinia. Mereka terdiri dari
delapanpuluh orang tanpa wanita dan anak-anak. Adakah kedua
kali hijrah mereka itu hanya semata-mata melarikan diri dari
gangguan ataukah meskipun dalam perencanaan Muhammad sendiri –
mereka mempunyai tujuan politik? Sebaiknya ahli sejarah akan
dapat mengungkapkan hal ini.

Sudah pada tempatnya bagi penulis sejarah hidup Muhammad akan
bertanya: bagaimana Muhammad dapat tenang membiarkan
sahabat-sahabatnya pergi ke Abisinia, padahal agama penduduk
itu adalah agama Nasrani, agama ahli kitab, Nabi mereka Isa
yang diakui kerasulannya oleh Islam? Lalu ia tidak kuatir
mereka akan tergoda seperti yang dilakukan oleh Quraisy
walaupun dengan cara lain? Bagaimana pula ia akan merasa
tenang terhadap godaan itu, mengingat Abisinia adalah negeri
makmur; yang tidak sama dengan Mekah; dan lebih dapat
mempengaruhi daripada Quraisy? Kenyataannya, dari kalangan
Muslimin yang pergi ke Abisinia itu sudah ada seorang yang
masuk Kristen. Kenyataan ini menunjukkan, bahwa kekuatiran
akan adanya godaan ini seharusnya selalu ada pada Muhammad
mengingat keadaannya yang masih lemah dan mereka yang menjadi
pengikutnya masih menyangsikan kemampuannya melindungi diri
mereka sendiri atau akan dapat mengalahkan musuh mereka. Besar
sekali dugaan bahwa hal demikian memang sudah terlintas dalam
pikiran Muhammad, melihat tingkat kecerdasannya yang begitu
tinggi dengan ketajaman pikiran dan pandangannya yang jauh,
yang semuanya itu seimbang dengan jiwa besarnya, dengan
kemurnian rohaninya, budi pekerti yang luhur serta perasaannya
yang halus sekali itu.

Tetapi sungguhpun begitu, dari segi ini ia yakin dan tenang
sekali. Pada waktu itu – dan sampai pada waktu pembawa risalah
itu wafat – inti ajaran Islam masih bersih sekali,
kemurniannya masih belum ternodakan. Seperti ajaran Nasrani di
Najran, Hira dan Syam, begitu juga paham Nasrani di Abisinia
sudah dijangkiti oleh noda, perselisihan antara mereka yang
menuhankan Ibu Mariam dengan mereka yang menuhankan Isa.
Disamping ada lagi yang berlainan dengan kedua golongan itu,
mereka yang masih mengambil dari sumber ajaran yang murni,
yang tidak perlu dikuatirkan.

Sebenarnya, kebanyakan agama-agama itu sesudah beberapa
generasi saja berjalan, sudah dijangkiti oleh semacam
paganisma, meskipun bukan dari jenis rendahan, yang waktu itu
berkembang di negeri-negeri Arab; tetapi bagaimanapun
paganisma juga.

Kedatangan Islam merupakan musuh berat buat paganisma dalam
segala bentuk dan coraknya. Ditambah lagi, bahwa agama Nasrani
waktu itu sudah mengakui adanya suatu golongan klas khusus di
kalangan pemuka-pemuka agama – yang oleh Islam samasekali
tidak dikenal – yang pada waktu itu merupakan golongan
tertinggi dan paling suci. Juga pada waktu itu – dan dasar ini
tetap berlaku – Islam merupakan agama yang menjunjung jiwa
manusia ke puncak tertinggi. Tak ada peluang yang akan dapat
menghubungkan manusia dengan Tuhannya selain daripada baktinya
dan perbuatan yang baik, dan orang harus mencintai sesamanya
seperti mencintai dirinya. Tidak ada berhala-berhala, tidak
ada pendeta-pendeta, tidak ada dukun-dukun dan tidak ada
apapun yang akan merintangi jiwa manusia itu untuk berhubungan
dengan seluruh wujud ini dengan perbuatan dan kelakuan yang
baik. Allah juga yang akan membalas segala perbuatan itu
dengan berlipat ganda.

Dan ruh! Soal ruh adalah urusan Tuhan. Ruh yang berhubungan
dengan kekekalan dan keabadian zaman. Segala perbuatan baik
bagi ruh ini tak ada tabir yang akan menutupinya dari Tuhan,
dan tak ada kekuasaan apapun selain Allah. Orang-orang yang
kaya, yang kuat atau yang jahat dapat saja menyiksa jasad ini,
dapat saja memisahkannya dari segala kesenangan dan hawa nafsu
dan dapat saja menghancurkan semua itu, tetapi ruh atau jiwa
itu takkan dapat mereka kuasai selama yang bersangkutan mau
menempatkannya lebih tinggi di atas segala kekuasaan materi
dan waktu, dan tetap berhubungan dengan seluruh alam ini.

Manusia itu akan mendapat balasan atas segala perbuatannya
bilamana kelak setiap jiwa menerima balasan menurut apa yang
telah dikerjakannya. Ketika itu seorang ayah takkan dapat
menolong anaknya, dan seorang anak takkan pula dapat menolong
ayahnya sedikitpun. Ketika itu harta si kaya. sudah tak
berguna lagi, tidak juga si kuat dengan kekuatannya, atau
ahli-ahli teologi itu dengan ilmu ketuhanannya. Tetapi yang
penting hanyalah perbuatan mereka, yang nanti akan menjadi
saksi. Ketika itulah seluruh alam wujud berpadu semua dalam
kekekalan dan keabadiannya. Tuhan tidak akan memperlakukan
tidak adil terhadap siapapun. “Dan balasan yang kamu terima
hanya menurut apa yang kamu perbuat.”

Bagaimana Muhammad akan merasa kuatir akan adanya godaan
terhadap mereka yang sudah diajarkan semua arti ini, sudah
ditanamkan ke dalam jiwa mereka dan sudah pula akidah dan iman
itu terpateri dalam lubuk hati mereka! Bagaimana pula ia akan
merasa kuatir akan adanya godaan, sedang teladan yang
diberikannya itu hidup dihadapan mereka, dengan pribadinya
yang begitu dicintai, sehingga kecintaan mereka kepadanya
melebihi cintanya kepada diri sendiri kepada anak keluarganya!
Pribadi, yang telah menempatkan akidah itu diatas semua raja
di muka bumi ini, di langit, dengan matahari dan bulan,
tatkala ia mengatakan kepada pamannya: “Demi Allah, kalaupun
mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan meletakkan
bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku meninggalkan
tugas ini, sungguh tidak akan kutinggalkan, biar nanti Allah
yang akan membuktikan kemenangan itu di tanganku, atau aku
binasa karenanya.”

Pribadi inilah, pribadi yang telah disinari cahaya iman
kebijaksanaan dan keadilan, kebaikan, kebenaran serta
keindahan; di samping itu adalah pribadi yang penuh rasa
rendah hati, rasa kesetiaan serta keakraban dan kasih-sayang.

Karena itulah, sedikitpun tidak goyah hatinya melepaskan
sahabat-sahabatnya berangkat hijrah ke Abisinia. Keadaan
mereka yang sudah merasa aman di dekat Najasyi, merasa tenang
dengan agama mereka di tengah-tengah masyarakat yang tidak
punya hubungan famili atau pertalian batin itu, membuat pihak
Quraisy lebih menyadari, bahwa gangguan mereka terhadap kaum
Muslimin – sebagai masyarakat dari sesama mereka, dari
keluarga mereka dan seketurunan pula – adalah suatu
penganiayaan, suatu perbuatan kekerasan dan demoralisasi yang
tak berkesudahan. Itu semua adalah suatu tekanan dengan
pelbagai macam siksaan kepada mereka yang sudah begitu kuat
jiwanya untuk menerima siksaan demikian itu. Tetapi mereka
sekarang sudah tidak lagi mendapat sesuatu gangguan. Mereka
sudah menganggap, bahwa ketabahan menghadapi segala
penderitaan itu adalah suatu pendekatan kepada Tuhan, dan
suatu ampunan.

Waktu itu ‘Umar ibn’l-Khattab adalah pemuda yang gagah
perkasa, berusia antara tigapuluh dan tigapuluh lima tahun.
Tubuhnya kuat dan tegap, penuh emosi dan cepat naik darah.
Kesenangannya foya-foya dan minum-minuman keras. Tetapi
terhadap keluarga ia bijaksana dan lemah-lembut. Dari kalangan
Quraisy dialah yang paling keras memusuhi kaum Muslimin.

Akan tetapi sesudah ia mengetahui, bahwa mereka sudah hijrah
ke Abisinia dan mengetahui pula rajanya memberikan
perlindungan kepada mereka, iapun merasa kesepian berpisah
dengan mereka itu. Ia merasakan betapa pedihnya hati, betapa
pilunya perasaan mereka berpisah dengan tanah air.

Tatkala itu Muhammad sedang berkumpul dengan
sahabat-sahabatnya yang tidak ikut hijrah, dalam sebuah rumah
di Shafa. Di antara mereka ada Hamzah pamannya, Ali bin Abi
Talib sepupunya, Abu Bakr b. Abi Quhafa dan Muslimin yang
lain. Pertemuan mereka ini diketahui ‘Umar. Iapun pergi
ketempat mereka, ia mau membunuh Muhammad. Dengan demikian
bebaslah Quraisy dan kembali mereka bersatu, setelah mengalami
perpecahan, sesudah harapan dan berhala-berhala mereka hina.

Di tengah jalan ia bertemu dengan Nu’aim b. Abdullah. Setelah
mengetahui maksudnya, Nuiaim berkata:

“Umar, engkau menipu diri sendiri. Kaukira keluarga ‘Abd
Manaf. akan membiarkan kau merajalela begini sesudah engkau
membunuh Muhammad? Tidak lebih baik kau pulang saja ke rumah
dan perbaiki keluargamu sendiri?!”

Pada waktu itu Fatimah, saudaranya, beserta Sa’id b. Zaid
suami Fatimah sudah masuk Islam. Tetapi setelah mengetahui hal
ini dari Nu’aim, Umar cepat-cepat pulang dan langsung menemui
mereka. Di tempat itu ia mendengar ada orang membaca Qur’an.
Setelah mereka merasa ada orang yang sedang mendekati, orang
yang membaca itu sembunyi dan Fatimah menyembunyikan kitabnya.

“Aku mendengar suara bisik-bisik apa itu?!” tanya Umar.

Karena mereka tidak mengakui, Umar membentak lagi dengan suara
lantang: “Aku sudah mengetahui, kamu menjadi pengikut Muhammad
dan menganut agamanya!” katanya sambil menghantam Sa’id
keras-keras. Fatimah, yang berusaha hendak melindungi
suaminya, juga mendapat pukulan keras. Kedua suami isteri itu
jadi panas hati.

“Ya, kami sudah Islam! Sekarang lakukan apa saja,” kata
meteka.

Tetapi Umar jadi gelisah sendiri setelah melihat darah di muka
saudaranya itu. Ketika itu juga lalu timbul rasa iba dalam
hatinya. Ia menyesal. Dimintanya kepada saudaranya supaya
kitab yang mereka baca itu diberikan kepadanya. Setelah
dibacanya, wajahnya tiba-tiba berubah. Ia merasa menyesal
sekali atas perbuatannya itu. Menggetar rasanya ia setelah
membaca isi kitab itu. Ada sesuatu yang luarbiasa dan agung
dirasakan, ada suatu seruan yang begitu luhur. Sikapnya jadi
lebih bijaksana.

Ia keluar membawa hati yang sudah lembut dengan jiwa yang
tenang sekali. Ia langsung menuju ke tempat Muhammad dan
sahabat-sahabatnya itu sedang berkumpul di Shafa. Ia minta
ijin akan masuk, lalu menyatakan dirinya masuk Islam. Dengan
adanya Umar dan Hamzah dalam Islam, maka kaum Muslimin telah
mendapat benteng dan perisai yang lebih kuat.

Dengan Islamnya Umar ini kedudukan Quraisy jadi lemah sekali.
Sekali lagi mereka mengadakan pertemuan guna menentukan
langkah lebih lanjut. Sebenarnya peristiwa ini telah
memperkuat kedudukan kaum Muslimin, telah memberikan unsur
baru berupa kekuatan yang luarbiasa yang menyebabkan kedudukan
Quraisy terhadap kaum Muslimin dan kedudukan mereka terhadap
Quraisy sudah tidak seperti dulu lagi. Keadaan kedua belah
pihak ini kemudian diteruskan oleh suatu perkembangan politik
baru, penuh dengan peristiwa-peristiwa, dengan
pengorbanan-pengorbanan dan kekerasan-kekerasan baru lagi,
yang sampai menyebabkan terjadinya hijrah dan munculnya
Muhammad sebagai politikus di samping Muhammad sebagai Rasul.

Catatan kaki

1 Pada umumnya kata ‘namus besar’ (an-namus’l-akbar)
oleh beberapa penulis yang datang kemudian diberi
anotasi, bahwa kata namus berarti ‘Jibnl.’ Mungkin ini
didasarkan kepada (N) dan (LA) yang juga mengartikan
demikian. Mengenai kata-kata ini Dr. Haekal tidak
memberikan catatan. Demikian juga Ibn Ishaq dan ibn
Hisyam. Salah seorang Orientalis – Montgomery Watt
misalnya – memberikan catatan bahwa kata namus
biasanya diambil dan bahasa Yunani nomos, dan ini
berarti undang-undang atau kitab suci yang diwahyukan,
(Muhammad at Mecca, p. 51). Sebaliknya pemakaian kata
namus bukan istilah Qur’an, sebab Qur’an menggunakan
kata Taurat apabila yang dimaksud dengan namus itu
undang-undang Nabi Musa (A).
2 ash-Shafa ialah sebuah bukit dekat Mekah (A).
3 Semacam gedung pertemuan (A).
4 Menurut kepercayaan mereka penyakit yang disebabkan
oleh gangguan jin, aslinya ra’i (A).
5 Dalam literatur Barat umumnya disebut Negus (A)
6 Peristiwa ini terjadi dalam tahun 615 Masehi (tahun
kelima sesudah kerasulan) (A).

———————————————
S E J A R A H H I D U P M U H A M M A D

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980

Seri PUSTAKA ISLAM No.1

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: