Nabi Muhammad

7 April 2009 pukul 8:31 AM | Ditulis dalam nabi muhammad | 2 Komentar

oleh Muhammad Husain Haekal

KATA PERKENALAN

Oleh almarhum Syaikh Muhammad Mustafa al-Maraghi
(Rektor Magnificus Universitas Al-Azhar)

SEJAK manusia berada di permukaan bumi ini, hasratnya ingin
mengetahui segala hukum dan kodrat alam yang terdapat di
sekitarnya, besar sekali. Makin dalam ia meneliti, makin
tampak kepadanya kebesaran alam itu, melebihi yang semula.
Kelemahan dirinya makin tampak pula dan keangkuhannyapun makin
berkurang.

Demikianlah, Nabi yang membawa Islam itupun sama pula dengan
alam itu. Sejak bumi ini menerima cahaya Nabi, para ulama
berusaha mencari segi-segi kemanusiaan yang besar daripadanya,
mencari nilai-nilai Asma Allah dalam pemikirannya, dalam
akhlaknya, dalam ilmunya. Dan kalaupun mereka mampu mencapai
pengetahuan itu seperlunya, namun sampai kini pengetahuan yang
sempurna belum juga mereka capai. Perjuangan yang mereka
hadapi masih panjang, jaraknya masih jauh, jalannyapun tak
berkesudahan.

Kenabian adalah anugerah Tuhan, tak dapat dicapai dengan
usaha. Akan tetapi ilmu dan kebijaksanaan Allah yang berlaku,
diberikan kepada orang yang bersedia menerimanya, yang sanggup
memikul segala bebannya. Allah lebih mengetahui di mana
risalah-Nya itu akan ditempatkan. Muhammad s.a.w. sudah
disiapkan membawa risalah (misi) itu ke seluruh dunia, bagi si
putih dan si hitam, bagi si lemah dan si kuat. Ia disiapkan
membawa risalah agama yang sempurna, dan dengan itu menjadi
penutup para nabi dan rasul, yang hanya satu-satunya menjadi
sinar petunjuk, sekalipun nanti langit akan terbelah,
bintang-bintang akan runtuh dan bumi inipun akan berganti
dengan bumi dan angkasa lain.

Kesucian para nabi dalam membawa risalah dan meneruskan amanat
wahyu itu, adalah masalah yang tak dapat dimasuki oleh kaum
cendekiawan. Bagi para nabi, sudah tak ada pilihan lain.
Mereka menerima risalah dan amanat, dan itu harus disampaikan,
sesudah mereka diberi cap dengan stempel kenabian. Tugas
menyampaikan amanat demikian itu sudah menjadi konsekwensi
wajar bagi seorang nabi, yang tak dapat dielakkan. Akan
tetapi, tidak selamanya wahyu itu menyertai para nabi dalam
tiap perbuatan dan kata-kata mereka. Mereka juga tidak bebas
dari kesalahan. Bedanya dengan manusia biasa, Allah tidak
membiarkan mereka hanyut dalam kesalahan itu sesudah sekali
terjadi, dan kadang mereka segera mendapat teguran.

Muhammad s.a.w. telah mendapat perintah Tuhan guna
menyampaikan amanat itu, dengan tidak dijelaskan jalan yang
harus ditempuhnya, baik dalam cara menyampaikan risalah atau
dalam cara, mempertahankannya. Pelaksanaannya diserahkan
kepadanya, menurut kemampuan akalnya, pengetahuannya dan
kecerdasannya, sebagaimana biasa dilakukan oleh kaum
cerdik-pandai lainnya. Kemudian datang wahyu memberikan
penjelasan secara tegas tentang segala sesuatu yang mengenai
Zat Tuhan, ke-EsaanNya, Sifat-sifatNya serta cara-cara
beribadat. Tetapi tidak demikian tata-cara kemasyarakatan,
dalam keluarga, tentang desa dan kota, tentang negara, baik
yang berdiri sendiri atau yang terikat oleh negara-negara
lain.

Di samping itu masih banyak sekali bidang lain yang harus
diselidiki sehubungan dengan kebesaran Nabi s.a.w. sebelum
datangnya wahyu. Juga tidak kurang kebesaran itu yang harus
diselidiki sesudah datangnya wahyu. Ia menjadi utusan Tuhan
dan mengajak orang kepadaNya. Ia melindungi ajakannya (dakwah)
itu serta membela kebebasan para penganjurnya. Ia menjadi
pemimpin umat Islam, menjadi panglima perangnya; ia menjadi
mufti, menjadi hakim dan organisator seluruh jaringan
komunikasi dalam hubungan sesamanya dan antar-bangsa. Dalam
segala hal ia dapat menegakkan keadilan. Ia mempersatukan
bangsa-bangsa dan kelompok-kelompok itu, sesuai dengan yang
dapat diterima akal sehat. Ia telah memperlihatkan
kemampuannya berpikir, ketenangannya serta pandangannya yang
jauh. Ia dapat memperlihatkan kecerdasannya serta kemampuannya
berpikir cepat dan tepat dengan keteguhan hati terhadap setiap
kata dan perbuatan. Ia telah menjadi sumber ilmu dan
pengetahuan. Ia menjadi lambang kefasihan, yang menyebabkan
para ahli dalam bidang itu harus takluk dan menundukkan
kepala, mengakui kebesaran dan kedahsyatannya. Akhirnya ia
melepaskan dunia fana ini dengan rela hati atas pekerjaannya,
yang juga sudah mendapat kerelaan Allah dan kaum Muslimin
pula.

Semua segi itu perlu sekali dijadikan bahan studi dan perlu
mendapat pengamatan yang lebih teliti. Supaya semua segi itu
dapat dilaksanakan dengan baik, tentu tidak dapat dilakukan
oleh hanya seorang saja. Bahkan satu segi sajapun takkan dapat
dicapai.

Sebagaimana terhadap sejarah hidup orang-orang besar umumnya,
orang biasanya suka menambahkan hal-hal yang tidak semestinya,
demikian juga terhadap sejarah hidup Muhammad s.a.w. –baik
karena didorong oleh rasa cinta dan maksud baik, ataupun
karena didorong oleh rasa dengki dan maksud jahat. Hanya
bedanya dari biografi orang-orang besar itu ialah, bahwa di
sini tidak sedikit yang disertai dengan wahyu Ilahi dan
jaminan akan terpeliharanya Qur’an Suci, disamping tidak
sedikit pula keterangan-keterangan dari mereka yang hafal
Qur’an daripada ahli-ahli hadis yang dapat dipercaya. Atas
landasan-landasan yang kuat itulah penulisan sejarah harus
didasarkan, dan dari situ pula para sarjana harus mengambil
sumber-sumber pemikiran dan penelitiannya. Kemudian lalu
membuat suatu analisa yang benar-benar ilmiah sifatnya, dengan
melihat suasana lingkungan dan milieu serta
kepercayaan-kepercayaan, susunan masyarakat dan adat-istiadat
dari segala seginya yang berbagai ragam itu.

Dalam hal ini Dr. Haekal telah menyelesaikan karyanya, Hayat
Muhammad, tentang peri hidup Muhammad s.a.w. Dengan senang
hati sekali saya telah membaca sebagian buku itu sebelum
seluruhnya selesai dicetak. Di kalangan pembaca berbahasa Arab
Dr. Haekal sudah cukup dikenal dengan karya-karyanya yang
tidak sedikit jumlahnya, sehingga tidak perlu lagi rasanya
diperkenalkan. Dia adalah seorang sarjana hukum dan ahli
filsafat. Posisi dan sifat jabatannya memungkinkan dia
mengadakan hubungan dengan kebudayaan lama dan kebudayaan
modern. Dalam hal ini ia telah dapat melaksanakan tugas itu
sebaik-baiknya. Ia sering bertukar pikiran dan berdiskusi
mengenai masalah-masalah kepercayaan, pandangan hidup,
mengenai kaidah-kaidah sosial, politik dan sebagainya. Dengan
demikian ia berpikir lebih matang, pengalaman dan
pengetahuannyapun makin luas, pandangannya juga cukup jauh
pula. Ia dapat mempertahankan pendapatnya itu dengan logika
dan argumentasi yang kuat , dengan gayanya yang khas dan sudah
cukup dikenal.

Dengan intelegensia dan kemampuan semacam itulah Dr. Haekal
menulis bukunya itu. Dalam kata pengantarnya ia menyebutkan:

“Sungguhpun begitu saya tidak beranggapan, bahwa saya sudah
sampai ke tujuan terakhir dalam menyelidiki sejarah hidup
Muhammad. Bahkan barangkali akan lebih tepat bila saya
katakan, bahwa saya baru dalam taraf permulaan mengadakan
penyelidikan dengan metoda ilmiah yang baru dalam bahasa Arab
ini.

Mungkin pembaca akan terkejut bila saya katakan, bahwa antara
dakwah Muhammad dengan metoda ilmiah modern mempunyai
persamaan yang besar sekali. Metoda ilmiah ini ialah
mengharuskan kita –apabila kita hendak mengadakan suatu
penyelidikan– terlebih dulu kita membebaskan diri dari segala
prasangka, pandangan hidup dan kepercayaan yang sudah ada pada
diri kita, yang berhubungan dengan penyelidikan itu. Di
situlah kita memulai dengan mengadakan observasi dan
eksperimen, mengadakan perbandingan yang sistematis, kemudian
baru dengan silogisma yang sudah didasarkan kepada
premisa-premisa tadi. Apabila semua itu sudah dapat
disimpulkan, maka kesimpulan demikian itu pun dengan
sendirinya masih perlu dibahas dan diselidiki lagi. Tetapi
bagaimanapun juga ini sudah merupakan suatu data ilmiah selama
penyelidikan tersebut belum memperlihatkan kekeliruan. Metoda
ilmiah demikian ini ialah yang terbaik yang pernah –dicapai
umat manusia demi kemerdekaan berpikir. Metoda dan dasar-dasar
dakwah demikian inilah yang menjadi pegangan Muhammad”.

Bahwa metoda demikian ini adalah metoda Qur’an, hal itu sudah
tidak perlu diragukan lagi. Bagi Qur’an rasio harus menjadi
juru penengah, sedang yang harus menjadi dasar ilmu ialah
pembuktiannya. Qur’an mencela sikap meniru-niru buta dan
mereka-reka yang hanya didasarkan pada prasangka. “Dan bahwa
prasangka itu tidak berguna sedikit pun terhadap kebenaran”1
Mengkultuskan suatu kebiasaan, yang hanya karena dilakukan
oleh nenek moyang, juga dicela. Qur’an mengharuskan orang
berdakwah itu dengan pikiran yang bijaksana. Kekuatan mujizat
Muhammad s.a.w. hanyalah dalam Qur’an, dan mujizat ini sungguh
rasionil adanya.

Sajak Bushiri2 berikut ini memang indah sekali:

Tidak sampai kita dicoba
Yang akan meletihkan akal karenanya
Sebab sayangnya kepada kita
Kita pun tak ragu, kita pun tak sangsi.

Kalau cara pembahasan demikian ini merupakan suatu cara yang
baru, memang suatu hal yang tak dapat dielakkan. Dr. Haekal
sudah bergaul dengan ulama dan sarjana-sarjana lain dalam hal
ini. Dan memang ini pula cara Qur’an seperti sudah
dikatakannya tadi. Dan memang itu pula yang pernah ditempuh
sarjana-sarjana Islam dahulu. Coba kita lihat misalnya
buku-buku ilmu kalam (teologi spekulatif); mereka menentukan,
bahwa kewajiban kita pertama ialah mengenal Tuhan
(ma’rifatullah). Yang lain berkata: Tidak. Yang pertama harus
ditempuh ialah syak (skepsis). Lalu tak ada jalan lain untuk
mencapai ma’rifat (connaissance) itu kecuali dengan
pembuktian. Dan kalaupun itu dapat digolongkan ke dalam
pengertian syllogisma namun premisa-premisanya harus sudah
pasti dan dapat dirasakan, dan secara intuitif akhirnya dapat
pula dipahami berdasarkan pengalaman yang sempurna dan dapat
dipastikan sungguh-sungguh, seperti sudah biasa dikenal dalam
logika. Setiap kesalahan yang dapat menyusup ke dalam
premisa-premisa itu atau ke dalam bentuk penyusunannya, dapat
merusak pembuktian tersebut.

Yang menempuh jalan demikian ini ialah Imam Ghazali. Dalam
salah satu bukunya ia mengatakan, bahwa terlebih dulu ia
membebaskan diri dari segala macam konsepsi. Kemudian baru ia
berpikir dan menimbang kembali, menyusun kembali lalu membuat
beberapa perbandingan. Dikemukakannya beberapa argumentasi,
diujinya dan dianalisa. Dari semua itu kemudian ia memperoleh
petunjuk, bahwa Islam dan tuntunan yang diberikan menurut
konsepsi Islam adalah benar. Imam Ghazali melakukan ini guna
menghindarkan hal-hal yang bersifat taklid. Ia ingin membina
keimanannya itu atas dasar iman yang pasti, yang berlandaskan
argumen dan pembuktian, yakni iman yang kebenarannya sudah
menjadi pegangan kaum Muslimin tanpa ada khilafiah.

Juga dalam buku-buku ilmu kalam tidak sedikit kita jumpai
kisah abstraksi (pembebasan diri dari segala kepercayaan dan
konsepsi) yang sudah biasa dikenal dalam rukun iman itu,
kemudian dibahas dan ditinjaunya kembali. Abstraksi adalah
cara yang sudah lama ada, juga dengan cara-cara eksperimen dan
penyelidikan sudah lama ada. Eksperimen dan penyelidikan yang
sempurna ialah hasil daripada suatu observasi. Semua itu bagi
kita bukan barang baru. Akan tetapi cara-cara lama ini, baik
dalam teori maupun praktek, yang subur di Timur hanyalah
cara-cara taklid dengan mengabaikan peranan rasio. Sesudah
kemudian oleh orang Barat dikeluarkan kembali dalam bentuk
yang lebih matang sehingga dapat dimanfaatkan –baik dalam
teori ataupun praktek– kitapun lalu kembali mengambil dari
sana. Demikian juga dalam ilmu pengetahuan kita menganggapnya
sebagai sesuatu yang baru pula.

Ketentuan ilmiah dalam cara penyelidikan demikian ini sudah
cukup dikenal, baik yang lama maupun yang modern. Untuk
sekedar mengetahui memang mudah, tapi melaksanakannya itulah
yang sulit. Orang tidak banyak berselisih pendapat mengenai
pengetahuan tentang hukum, misalnya. Tetapi dalam melaksanakan
ketentuan hukum itu, pendapat orang jauh sekali berbeda-beda.

Membebaskan diri dari konsepsi, observasi dan eksperimen,
induksi dan deduksi, adalah kata-kata yang mudah. Akan tetapi
bagi orang yang sudah begitu jauh hanyut dalam beban warisan
yang sudah mendarah daging, dalam beban lingkungan, dalam
rumah tangga, dalam desa, kota, negara atau dalam sekolah,
tekanan-tekanan kepercayaan yang sudah ada, temperamen,
kesehatan, penyakit serta segala macam nafsu, bagaimanakah
akan dengan mudah melaksanakannya? Di sinilah terletak
penyakit itu, dahulu dan sekarang. Itu pula sebab timbulnya
bermacam-macam aliran dan berubah-ubahnya pendapat,
berpindah-pindah dari daerah ke daerah lain, dari bangsa
kepada bangsa lain. Seperti juga kaum wanita yang berganti
mode, filsafat dan peradaban pun berganti corak, generasi demi
generasi. Dan jarang sekali ada sesuatu yang tak lapuk di
hujan tak lekang di panas. Bahkan perubahan itu berjalan
sesuai dengan kaidah-kadiah ilmu pengetahuan yang sejak
berabad-abad tidak pernah diragukan. Terhadap teori
relativitas misalnya, para sarjanapun goyah dan cepat-cepat
merombaknya. Pendapat-pendapat tentang patologi, tentang
terapi, tentang gizi, semua ini masih dalam proses yang
berubah-ubah. Demikian juga apabila kita perhatikan pelbagai
macam produk otak manusia tidak pernah stabil sebelum disertai
pembuktian dengan syarat-syarat yang cukup.

Akan tetapi apa artinya semua ini meskipun sudah dilengkapi
dengan segala pembuktian, bila dibandingkan dengan yang lain,
yang sudah penuh dengan segala macam prasangka dan
angan-angan, yang sudah sarat oleh pikiran-pikiran yang sakit
atau di bawah tekanan politik. Hal inilah yang diketengahkan
oleh para ulama dan sarjana yang gemar mengadakan pertentangan
dengan pihak lain, dengan melahirkan aliran-aliran dan
pendapat-pendapat demikian itu! Kekacauan pikiran ini mungkin
akan mengurangi semangat ulama atau sarjana-sarjana yang hanya
mendewa-dewakan akal semata. Dan pada waktunya akan
mengalihkan pandangan mereka kepada kebenaran dan keimanan,
yakni wahyu yang sebenarnya, yaitu Qur’an Suci dan Sunah yang
sahih.

Baiklah, sekarang kita kembali kepada Dr. Haekal dan bukunya
ini.

Beberapa ahli ilmu kalam mengatakan, bahwa dengan
memperhatikan astronomi dan anatomi jelas sekali menunjukkan
sempurnanya kodrat Ilahi tentang susunan alam ini. Dan sayapun
memperkuat pendapat ini, bahwa ilmu pengetahuan dan penemuan
mengenai ketentuan-ketentuan serta segenap rahasia alam
semesta inipun akan menjadi pendukung agama, akan memperdekat
pikiran manusia menempuh jalan pengertian yang tadinya masih
kabur, yang tadinya masih di luar jangkauan otaknya. Akhirnya
akan dapat memahami, sejalan seperti yang difirmankan Tuhan:
“Akan segera Kami perlihatkan bukti-bukti Kami dalam segenap
penjuru alam dan dalam diri mereka sendiri, sehingga ternyata
bagi mereka bahwa inilah Kebenaran itu. Belum cukupkah, bahwa
Tuhanmu menjadi Saksi atas segalanya?3

Soal-soal elektro dan segala yang dihasilkannya seperti
penemuan-penemuan lainnya, membantu otak kita memahami adanya
perubahan benda kepada tenaga dan tenaga kepada benda.
Demikian juga spiritualisma telah banyak menerangkan hal-hal
yang tadinya masih dipersengketakan; ternyata ini membantu
memahami adanya pembebasan ruh dan kemungkinan terpisahnya ruh
itu serta memahami kecepatan yang dimiliki ruh itu menempuh
jarak yang jauh. Dr. Haekal telah memanfaatkan hal ini dalam
mengartikan kisah Isra dengan cara yang agak baru. Rasanya
akan terlalu panjang saya bicara bila harus menguraikan faedah
yang akan kita peroleh dari buku Dr. Haekal ini. Cukuplah
kalau saya sebutkan secara keseluruhan saja. Orang akan
melihat sendiri keindahannya, akan menikmati sendiri hasil
pikirannya yang didasarkan kepada bahan-bahan yang otentik
itu, didasarkan kepada pemikiran yang logis, yang didukung
oleh bawaan sewajarnya. Orang akan melihat bahwa Dr. Haekal
sungguh jujur dalam mencari kebenaran, keyakinan memenuhi
kalbunya akan hidayah dan nur yang dibawa dalam wahyu
Muhammad, akan keindahan, kebesaran, suri-teladan dan
kemuliaan yang terdapat dalam biografi Nabi s.a.w. Ia sudah
yakin seyakin-yakinnya, bahwa agama yang dibawa Muhammad
inilah yang akan mengangkat umat manusia dari sarang kebalauan
dan kebingungan, yang akan mengangkat mereka dari kegelapan
materi, dan menyinari mata hati mereka dengan cahaya iman,
mengantarkan mereka kepada Nur Ilahi. Mereka akan menyadari
betapa luas rahmat Tuhan yang meliputi segalanya itu, betapa
besar keagunganNya, seluruh langit dan bumi memuliakanNya dan
segala yang ada memuliakanNya; betapa besar kekuasaanNya,
segala yang ada menjadi kecil di hadapanNya.

Seperti dikatakannya: “Dengan melihat lebih jauh dari itu saya
berpendapat, penyelidikan demikian sudah seharusnya akan
mengantarkan umat manusia ke jalan peradaban yang selama ini
dicarinya. Apabila pihak Nasrani di Barat merasa dirinya
terlampau besar akan mendapatkan cahaya baru itu dari Islam
dan dari Rasul, lalu menantikan cahaya itu akan datang dari
teosofi India dan dari pelbagai macam aliran di Timur Jauh
lainnya, maka orang-orang di Timurpun, baik umat Islam, Yahudi
atau Kristen, layak sekali bertindak mengadakan penyelidikan
berharga ini, dengan sikap yang bersih dan jujur, yakni
satu-satunya cara yang akan mencapai kebenaran.

Cara pemikiran Islam yang pada dasarnya adalah pemikiran
ilmiah menurut metoda modern dalam hubungan manusia dengan
lingkungan hidup sekitarnya, yang dari segi ini realistik
sekali, berubah menjadi pemikiran yang subyektif ketika
masalahnya menjadi hubungan manusia dengan alam semesta dan
Pencipta alam”.

Dan katanya lagi: “Akan tetapi adanya gejala-gejala akan
lenyapnya paganisma yang sekarang menguasai dunia kita,
mengemudikan kebudayaan yang berkuasa sekarang (the ruling
culture), tampak jelas sekali bagi setiap orang yang mau
mengikuti jalannya sejarah dan peristiwa-peristiwa dunia.
Apabila secara khusus dipelajari sungguh-sungguh sejarah hidup
Muhamnad itu sebagai Nabi serta ajaran-ajarannya, masanya
serta revolusi rohani yang terbesar ke seluruh dunia,
barangkali gejala-gejala ini akan makin jelas di depan mata
dunia, bahwa masalah-masalah rohani ini timbul dari pengaruh
sebagai peninggalannya.”

Dan keyakinan ini diperkuat oleh kenyataan, bahwa apa yang
sekarang dapat dilihat dari perhatian pihak Barat terhadap
penyelidikan peninggalan-peninggalan Timur serta perhatian
para sarjana mengadakan studi tentang Islam dari segala
seginya, tentang umat Islam masa kini dan masa lampau serta
kesadaran sebahagian mereka terhadap diri Nabi s.a.w.,
ditambah pula oleh pengalaman yang memperkuat, bahwa kebenaran
pasti akan menang, –semua itu menunjukkan bahwa Islam akan
mengembangkan panjinya ke segenap penjuru dunia, dan orang
yang kini sangat keras memusuhinya, dia juga nanti yang akan
menjadi orang paling bersemangat membelanya, dan mereka yang
tadinya masih asing itu akan menjadi kawan seperjuangan pula.
Sebagaimana pada mulanya Islam mendapatkan pembelaan dari
orang-orang asing (dari luar) lingkungan masyarakat tempat
kelahirannya, juga akhirnya orang-orang asing (luar) dari
bahasa dan tanah airnya itu yang akan membelanya. Islam telah
dimulai secara asing dan akan kembali asing seperti pada
mulanya. Maka bahagialah orang-orang yang asing itu!

Apabila Nabi s.a.w. adalah Nabi penutup dan takkan ada lagi di
dunia ini seorang penunjuk dan pembimbing lain sesudah dia,
dan agamanyapun agama yang sempurna sebagaimana ditegaskan
oleh wahyu, maka tidak mungkin keadaannya akan berhenti sampai
di situ saja seperti selama ini. Cahayanya pasti akan pudar
oleh yang lain, sama halnya seperti bintang-bintang yang jadi
pudar oleh sinar matahari.

Dr. Haekal yang merangkaikan peristiwa-peristiwa itu satu sama
lain memang tepat sekali. Bukunya inipun ternyata disusun
dalam komposisi dan gaya yang teratur dan kuat. Diterangkannya
alasan-alasan, maksud dan pertimbangannya dengan keterangan
yang jelas dan kuat sekali, membuat pembaca merasa puas dan
lega, merasa ada gairah dalam membaca, merasa sejuk hatinya
karena dapat diyakinkan. Ia akan terpengaruh, akan dipaksanya
terus membaca dan takkan melepaskannya sebelum selesai.

Dalam buku ini terdapat beberapa penyelidikan berharga di luar
penulisan biografi, tetapi yang ada hubungannya dengan soal
itu yang terbawa oleh adanya penguraian lebih luas dalam
memberikan keterangan itu.

Saya sudahi pengantar saya ini dengan ucapan Rasulullah
–salam baginya dan bagi keluarganya yang suci serta
sahabat-sahabatnya: “Aku berlindung kepada Nur WajahMu, yang
telah menyinari kegelapan, dan karenanya membawakan kebaikan
bagi dunia dan akhirat – daripada kemurkaanMu yang akan
Kautimpakan kepadaku, atau kebencianMu yang akan Kauturunkan
kepadaku. KeridaanMu juga yang kuminta. Tak ada suatu daya
upaya kalau tidak dengan Allah.”

15 Pebruari 1935.

MUHAMMAD NIUSTAFA AL-MARAGHI

Catatan kaki:

1 Qur’an, 53: 28.

2 Syarafuddin Muhammad al-Bushiri penyair Arab
berasal Barbar di Afrika Utara, lahir di Mesir
sekital 1212. Ia terkenal sekali hanya karena
antologinya Al-Burda (“Mantel”). Ia pernah tinggal
lama di Darussalam (Yerusalam) kemudian di Hijaz.
Puisi-puisinya yang masyhur itu ditulis di Mekah.
Pada mulanya ia menderita penyakit lumpuh. Dalam
tidurnya penyair ini konon bermimpi bertemu dengan
Nabi Muhammad yang datang kepadanya dan
menyelimutinya dengan mantelnya. Bushiri terkejut
bangun dan melompat, sehingga ketika itu juga ia
sembuh dari kelumpuhannya. Lalu ia menulis puisinya
yang luar biasa itu, lembut dan mengharukan, sebagai
dedikasi dan eulogi kepada Nabi Muhammad. Bushiri
meninggal sekitar tahun 1294 di Iskandaria. Al-Burda
terjemahan bahasa Inggris The Scarf dilakukan oleh
Faizullah Bahi (1893) dan dalam bahasa Indonesia oleh
Dr. Moh. Tolchah Mansoer. SH (A).

3 Qur’an, 41: 53

S E J A R A H H I D U P M U H A M M A D
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980
Seri PUSTAKA ISLAM No.1

Iklan

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Allahu Akbar…

  2. ★★★


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: