Sumberbendo

27 Februari 2009 pukul 10:32 PM | Ditulis dalam Wisata Malang | Tinggalkan komentar
Tag:


Sungguh langka untuk menemukan tujuan wisata di hari ini, dimana tak ada listrik dan junkfood yang tersedia. Namun hal ini nyata di Sumberbendo, sebuah kampung di Desa Kucur, Kecamatan Dau, di dasar Gunung Kawi di kabupaten Malang.

Baru-baru ini kampung itu mengadakan satu festival minggu panjang untuk 1,000-masyarakatnya dan wisatawan-wisatawan untuk mempertunjukkan gaya hidup dan kultur-kultur tradisional dari para nenek moyang Sumberbendo.

Tidak seperti festival-festival tradisional lain di daerah seperti yang pada Ponorogo, Banyuwangi, Bromo dan Pacitan, petani-petani dan pedagang-pedagang dari Sumberbendo melaksanakan aktivitas harian mereka menghidupkan kembali cara-cara yang sama dari para tetua mereka. Penduduk dan orang desa yang menghadiri festival menggunakan kembali perkakas penanggalan agrikultur yang sudah berabad-abad, mengenakan perlengkapan-perlengkapan biasa dan mengandalkan sumber makanan dan air dari alam.

Pimpinan Kampung Sumberbendo, Imam Safi’i berkata festival diselenggarakan bukan semata-mata untuk menarik wisatawan-wisatawan kepada daerah yang bergunung-gunung. Penduduk ingin memperkenalkan kultur mereka yang unik kepada yang lain dan memelihara tradisi-tradisi mereka seperti yang diminta oleh para nenek moyang mereka.

“Anda bebas untuk membuat aneka pilihan di dalam hidup pribadi Anda seperti menyaksikan TV atau dengan mengkonsumsi, tetapi kita tidak akan melupakan peninggalan para nenek moyang yang sudah mewariskannya pada kami dan mengajar kami untuk memeliharanya. Keunikan budaya itu dilengkapi dengan adat-istiadat kuno, moralitas dan alat-alat tradisional merupakan identitas kita sendiri, satu hal yang tak dipunyai kampung lainnya,” katanya kepada The Jakarta Post di festival itu.

Ditanyakan tentang asal-mula kebudayaan masyarakatnya, Imam berkata sejarah Sumberbendo bermula dari tiga abad lampau ketika nenek moyang mereka, yang dikenali sebagai Mbah Sampun, pertama kalinya menemukan daerah itu. Ia membersihkan bidang hutan di sekitar keserongan dari gunung, mengkonversinya menjadi tanah pertanian yang kemudian dikembangkan menjadi pemukiman di mana kampung berdiri hari ini.

Imam, salahsatu penduduk generasi ke lima dari Sumberbendo, berkata pesan dari pendiri mereka Sampun turun-menurun melalui tradisi lisan, dan menceriterakan pesan kuncinya: “Di masa datang, keturunan-keturunanku akan hidup di sini dan akan hidup dengan benar jika pengajaran jalan hidup kami yang asli dipelihara. Ini adalah suatu pengingat untuk orang-orang di kemudian di dalam peradaban.”

Sepanjang festival, desa bebas dari mesin modern dan sepeda motor, dan para penduduk mengandalkan gerobak beroda dua, andong, sapi penarik pedati-pedati, dan berjalan kaki.

Pada malam hari di kampung itu menyala lampu-lampu api unggun dan obor bambu di depan rumah-rumah di sekitar desa.

Para petaninya yang mengenakan pakaian gaya kolonial menggunakan mesin giling tradisional untuk memproses kopi dan jagung yang dipanen. Diwaktu sore yang muda sore menguliti padi, mengupasnya di lumpang, sementara anak-anak dan para pengunjung memainkan permainan-permainan tradisional.

Anak-anak lelaki dan lelaki dewasa mengenakan pantalon celana pendek hitam, sedangkan anak-anak perempuan dan wanita mengenakan sarong atau kebaya.

Selama festival, semua makanan dan minuman diperoleh secara langsung dari alam sebagai bahan baku yang dipanen untuk membuat makanan tradisional. Kampung itu adalah berkelimpahan dengan berbagai pohon buah tropis dan sayur-mayur.

“Banyak rumah tangga membuat ekstrak dari akar umbi daun-daun, sementara juga membuat minuman yang difermentasi dari derasan pohon kelapa dan aren untuk minuman,” kata Sunarni, penduduk dan turunan Sampun generasi ke lima.

“Jika haus, anda dapat mendapat air bersih dari tangki air bambu.”

Di waktu malam, kelompok seniman-seniman lokal mempertunjukkan pertunukan tradisional termasuk Nyi Juwut, aktivitas bela diri dan banyak lagi yang lain untuk menjamu para pengunjung.

“Ini merupakan kesempatan yang unik untuk wisatawan untuk mengalami kehidupan secara alami dalam setting tradisional. Tidak ada turisme seperti itu di Bali,” aku Made Sutama, wisatawan 52 tahun. Ia beserta keluarganya dari Denpasar, Bali, berkunjung khusus untuk menghadiri festival kampung ini.

Pimpinan panitia pelaksana festival itu, Rismanto, menngungkapkan perasaan bangganya yang kuat atas kekompakan dan kerjasama semua orang, yangmana tanpa mereka katanya, festival itu tidak bisa terjadi.

“Festival ini meningkatkan persaudaraan dan kerjasama di antara warga, mendorong mereka untuk memelihara tradisi-tradisi dan kontribusi mereka akan meningkatkan pariwisata kabupaten,” katanya. Rismanto berkata gagasan untuk festival datang dari ProFauna, satu NGO internasional yang melakukan konservasi satwa langka, terutama langgur (sejenis dari monyet) yang terancam punah.

Koordinator ProFauna, Rosek mengakui mengusulkan gagasan itu kepada kampung tetapi implementasinya diselenggarakan swadaya oleh penduduk tanpa bantuan keuangan atau teknis dari pemerintah lokal.

“Tidak seperti turisme konvensional yang menjual barang-barang antik, pemandangan alam di resor pantai-pantai dan gunung-gunung, festival ini menawarkan hidup kampung tradisional itu bercampur dengan gagasan-gagasan kreatif,” ungkap Rosek.

(JakartaPost / Wahyoe Boediwardhana)

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: