perempuan berkalung sorban

13 Februari 2009 pukul 10:47 AM | Ditulis dalam Novel Pendek | 3 Komentar
Tag: , , , , , , , , , ,

GENRE: Drama,
SUTRADARA: Hanung Bramantyo,
PENULIS NOVEL: Abidah Al Khalieqy,
PENULIS SKENARIO: Ginatri S. Noer,
PEMAIN: Revalina S. Temat, Oka Antara, Widyawati, Reza Rahadian, Francine Roosenda, Joshua Pandelaky, Berliana Febrianti, Tika Putri, Risty Tagor, Aditya Arif, Leboy Osmant, Eron Lebang, Ida Leman, Pangky Suwito, Pet Pagau, Cici tegal, Frans Christanto

Setelah sukses dengan film Ayat-Ayat Cinta (AAC), lagi-lagi Hanung Bramantyo kembali mengadopsi sebuah novel untuk diangkat ke layar lebar. Kali dari novel karya penulis perempuan Abidah Al Khalieqy. Sebuah kisah tentang usaha seorang perempuan, anak kyai salafiah, yang mencoba mendobrak sistem yang tak berpihak kepada dirinya, juga entitasnya sebagai seorang perempuan.

Kritis, cerdas dan punya gairah hidup. Begitulah sosok Anissa (Anissa kecil diperankan Nasya Abigai). Sejak duduk di bangku sekolah Madrasah Ibtidaiyah (setara dengan Sekolah Dasar), gambaran itu sudah mulai kentara. “Pembangkangan” nya ia tunjukkan kepada sang ayah yang tak pernah berpihak kepadanya, hanya karena dia seorang anak perempuan. Anissa, tak diperkenankan belajar menunggang kuda, berbeda dengan dua kakak laki-lakinya.

“Bagaimana dengan Hindun Binti Athaba?” Tanya Anissa kepada ayahnya, Kyai Hanan (Joshua Pandelaky). ‘Beliau perempuan, seorang panglima. Lalu Fatima Azahra, putri Rosul, malah memimpin perang,” sambungnya. Mendengar perkataan Anissa itu, Nyai Muthmainnah (Widyawati), ibunya, dan dua kakak laki-lakinya, hanya bisa terdiam sambil melontarkan pandangannya kepada Anissa.

Suasana di ruang makan berakhir mencekam. Kyai Hanan melontarkan ucapan keras sembari menggebrak meja menanggapi ucapan Anissa. “Anak perempuan tidak pantas dan kamu bukan anak Rosul! Kamu anak Abi (pangilan untuk ayah).”

Pemberontakan atas ketidakadilan itu, tak hanya diperlihatkan Anissa kepada sang ayah. Ia marah dan memilih ke luar ruangan sekolah, ketika guru sekolahnya justru mengangkat Farid, sebagai ketua kelas. Padahal, dalam pemilihan ketua kelas tersebut, Anissa lah yang berhasil mengumpulkan suara terbanyak sebagai balon ketua kelas. Alasannya, hanya karena dia seorang perempuan. Anissa tak layak memimpin kelas. Anissa mengadukan hal itu kepada ayahnya. Sial, jawaban yang terlontar tak memuaskan akal sehatnya.

Kisah Anissa berlanjut pilu ketika ia menginjak dewasa–sosoknya diperankan aktris cantik Revalina S. Temat. Ia tak diizinkan melanjutkan sekolahnya di sebuah unversitas di Yogya. Keinginan kuatnya itu justru harus berakhir di pelaminan. Cinta Anissa terjebak di antara kepentingan dua keluarga. Kyai Hanan menjodohkan dengan Samsudin (Reza Rahadian), anak kyai dari pesantren Salaf di Jawa Timur.

Luka dan duka memang tak pernah redup mendatangi Anissa. Ia terpaksa menerimanya, demi menyelamatkan pesantren dan obsesi sang ayah. Padahal, cinta Anissa hanya untuk Khudori (Oka Antara), paman yang juga sahabatnya sejak masih kecil. Dari Khudori, Anissa mendapatkan keteduhan jiwa.

Sedari awal kisah yang skenarionya ditulis Ginatri S. Noer–turut menggodok penulisan skenario AAC bersama suaminya, Salman Aristo–tak beranjak pada kisah sendu seorang Anissa. Namun, ia tak pernah mau menyerah. Anissa adalah gambaran sebuah perlawanan. Dalam kesedihan dan luka yang mendalam, terselip sebuah perlawanan yang terus membara. Semangat itu memuncak justru ketika ia diperlakukan tak adil oleh suaminya sendiri, Samsudin, yang selayaknya menjadi pelindung atas dirinya.

Batinnya terkoyak tak tersisa. Ia diperlakukan layaknya seorang babu, digagahi layaknya pelacur. Raganya teraniaya, hatinya pun terluka. Dengan kekuatan yang tersisa, ia pun berontak. Sebuah perlawanan ia rayakan dengan suka cita, demi sebuah kodrat yang tak ternilai dari Sang Pencipta. Ya, bahwa dia adalah seorang perempuan!

Inilah yang menjadi ruh dari semua cerita pilu Anissa. Pemberontakan terhadap sistem yang tak berpihak. Perempuan, yang dipatenkan sebagai kaum yang lemah dan tak berdaya, kerap hanya menjadi simbol dalam tatanan kehidupan yang ada. Ia ada, tapi kerap dipandang tak ada. Anissa mewakili gambaran itu. Inilah yang membuatnya memilih jalan berbeda dengan ibunya, Nyai Mutmainah, yang menjadikan kekuatan lewat sikapnya yang nerimo dan sabar.

Lewat kisah Perempuan Berkalung Sorban, Hanung sepertinya ingin mencoba menawarkan sebuah wacana baru dalam karya filmnya. Sebelum Hanung, film sejenis juga pernah diusung sejumlah sutradara perempuan lewat film Perempuan Punya Cerita. Napas yang dihadirkan lewat ceritanya memang hampir sama, yakni gambaran tentang perempuan yang tertindas lantaran sebuah sistem yang diciptakan. Namun, kali ini Hanung menghadirkannya dalam suasana kehidupan di sebuah pesantren Salafiah.

Hanung paham betul, bahwa apa yang dihadirkan lewat karya terbarunya bisa menimbulkan penafsiran yang berbeda. Karenanya, ia mewanti-wanti agar penonton melepaskannya dari wacana keislaman. “Mari kita bicara manusia tentang manusia. Tentang manusia yang diunggulkan dan manusia yang tak diunggulkan.” ujarnya. “Ini (film), lebih membicarakan tentang keluarga. Hubungan anak dengan bapak, anak dengan ibu, atau hubungan anak dengan keluarga,” katanya.

Tapi bagaimana pun, toh, film adalah sebuah potret zaman. Keterkaitan cerita yang diusung Abidah Al Khalieqy lewat novelnya, dan dituangkan secara bahasa gambar oleh Hanung, mewakili kondisi sosial yang ada sekarang ini. Agama kerap dijadikan senjata untuk memuluskan kepentingan kelompok atau pribadi. Tengok saja, jauh lebih luas, banyak kelompok yang menjual ayat-ayat demi kepentingan politik, kaum yang kuat menekan yang lemah. Suami menekan istri, atau urang tua memaksakan kehendaknya terhadap anaknya. “Mari kita bicara proposional. Mari kita menghargai perbedaan,” kata Hanung.

Secara cerita, Perempuan Berkalung Sorban, tentu saja memiliki alur cerita yang kuat. Kisah hidup Anissa yang suram dan perjuangannya menemukan jati dirinya sebagai perempuan terekam jelas. Ia berjuang meraih kebebasan berpikir untuk kaumnya di pesantren. Mengajak mereka menjelajah pemikiran-pemikiran besar para penulis besar lewat buku yang ditulisnya. Ia tangguh, tapi juga rapuh. Aroma luka dan getir itu kian terasa disuguhkan lewat ilustrasi musik Tya Subiakto dan alunan lagu Batasku, Asaku yang melodinya diciptakan sekaligus dinyanyikan penyanyi asal Malaysia, Siti Nurhaliza.

Tema perempuan memang begitu kental di film Hanung kali ini. Namun ia menampik kalau filmnya itu adalah film tentang perempuan. “Ini film keluarga. Kehadiran saya (sebagai sutradara), justru sebagai penyeimbang dari idealis perempuan. Penulis novelnya perempuan dan penulis skenarionya juga perempuan. Ini bukti bahwa perempuan dan laki-laki bisa duduk bareng untuk memecahkan masalah,” ujar Hanung mencoba menganalogikan cerita film yang diusungnya itu.

Di film tersebut, penampilan menawan diperlihatkan Revalina S. Temat dan Reza Rahadian. Keduanya tampil dengan permainan terbaiknya. Sebagai pemain baru, Reza berhasil menghadirkan karakter Samsudin, suami Anissa, yang memuakkan. Ia jumawa tatkala menunjukkan egonya sebagai suami. Tapi merengek-rengek bak anak ingusan, ketika diancam ditinggalkan Anissa.

Dan, tentu saja, acungan jempol layak diberikan kepada aktris senior Widyawati. Istri mendiang aktor Sophan Sophiaan berhasil menghadirkan sosok perempuan yang tegar dan kharismatik, meski dalam suasana batin yang tertekan. Ah, rasa-rasanya, Anda lah yang berhak menentukannya sendiri. Ketimbang terjebak pendapat penulis, ada baiknya menyaksikannya sendiri. Film produksi Kharisma Starvision Plus ini akan diputar di bioskop mulai hari ini, 15 Januari. (Eko Hendrawan Sofyan)

(www.kompas.com) \

Iklan

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Satu lagi film tidak bermutu dan tidak bernilai oleh sutradara yang katanya hebat.

    Naudzubillah.


    ####
    tp kita harus tetep tau bos….
    itu sisi lain kehidupan yang ada di Indonesia…
    dan itu kewajiban kita untuk mengarahkannya ke jalan yang benar..

  2. Adit, u guanyeeengg buangrtzZ CIIIIiiiii…..

  3. filmnya itu sangat mengharukan dan kita dapat mengambil hikmahnya,
    pokoknya is de betzZzZzZ…/..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: