Orangtua Perokok Akibatkan Anak Berisiko Alergi

5 Februari 2009 pukul 1:07 PM | Ditulis dalam Kesehatan | Tinggalkan komentar

STOCKHOLM – Paparan asap rokok atau perokok pasif pada balita bisa mendorong risiko anak-anak terkena alergi. Demikian diungkapkan peneliti Swedia. Sebuah tim peneliti pada Institut Karolina, Stockholm menganalisa daftar pertanyaan (questionaire) yang diisi oleh orangtua lebih dari 4.000 keluarga.

Orangtua mengisi jawaban, ketika bayi mereka berusia dua bulan, 12 bulan, 2 tahun, dan 4 tahun. Kemudian para peneliti mengumpulkan sampel darah dari lebih 2.500 anak pada usia 4 tahun untuk meneliti persentasi kadar immunoglobin E (IgE) yang dimunculkan oleh sistem kekebalan tubuh untuk merespons atas alergi. Level tinggi IgE mengindikasi peka terhadap alergi.

Sekira 8 persen ibu yang merokok selama kehamilan mereka dan 12 persen merokok selama sebagian masa kehamilan. Namun para peneliti tidak menemukan bukti bahwa merokok selama masa kehamilan bisa berakibat anak-anak berisiko menjadi peka terhadap alergi tertentu. Namun 20 persen ibu merokok setelah bayi mereka lahir, dan 4 persen anak-anak terpapar asap rokok menjadi perokok pasif dari kedua orangtua mereka.

Dari keseluruhan, 25 persen anak-anak memiliki IgE level tinggi, pada saat mereka berusia 4 tahun, dengan 15 persen alergi menjadi alergi pernafasan, 16 persen alergi pada makanan, dan 7 persen alergi pada kedua bentuk alergi tersebut. Dibandingkan dengan anak-anak yang tidak terpapar asap rokok, anak-anak yang terpapar asap rokok selama masa bayinya menjadi dua kali berisiko alergi pernafasan, seperti ketika bertemu binatang peliharaan. Dan 50 persen menjadi alergi pada makanan. Hasil studi ini di publikasi dalam jurnal ilmiah Thorax.

Memang perokok pasif akibat paparan asap rokok yang dihisap orang lain. Juga dikenal sebagai asap tembakau dari lingkungan (ETS) yang bisa dikenali dari baunya. ETS mengontaminasi udara dan tertahan di pakaian, gorden dan perkakas rumah tangga lainnya. Banyak orang merasa bahwa ETS sangat tidak nyaman, mengganggu, dan mengiritasi mata dan hidung. Lebih penting, itu bisa membahayakan kesehatan. Lebih dari 4.000 jenis zat kimia yang berbeda teridentifikasi dalam ETS, dan 43 zat kimia di antaranya bisa menyebabkan kanker. Hampir 26 persen orang dewasa di Amerika Serikat (AS) merokok, dan 50-67 persen anak-anak yang tinggal di rumah setidaknya ada seorang dewasa yang perokok.

Meskipun ETS sangat berbahaya bagi semua orang, termasuk bayi, janin, anak-anak adalah kelompok usia yang paling terkena risiko. Ini karena ETS bisa merusak pertumbuhan organ sel tubuh, seperti paru-paru dan otak.

Perokok pasif memberikan efek pada janin dan kelahiran di antaranya kematian bayi dan janin, perubahan aliran darah plasenta ketika seorang wanita sedang hamil. Walaupun secara jangka panjang efek kesehatan bagi ibu hamil yang terpapar asap rokok ini masih belum diketahui.

Beberapa studi penelitian menunjukkan bahwa merokok selama masa kehamilan bisa menyebabkan kecatatan seperti bibir sumbing atau lainnya. Ibu yang perokok produksi ASI-nya berkurang, dan bayi mereka memiliki berat badan lebih rendah. Ibu yang merokok juga terkait dengan kematian bayi dari sindrom kematian bayi secara tiba-tiba, penyebab utama kematian bayi antara usia satu bulan hingga satu tahun.

Paparan asap rokok bisa mengurangi dan merusak fungsi paru-paru pada anak-anak semua usia. Juga meningkatkan frekuensi asma anak-anak. Perokok pasif bisa membuat lebih buruk sinusitis, rhintis, dan beberapa jenis asma anak-anak. Pada anak usia di bawah dua tahun paparan asap rokok meningkatkan risiko bronkitis dan pneumonia. Pada kenyataannya, sebuah studi pada tahun 1992 yang dilakukan oleh Lembaga Perlindungan Lingkungan bahwa ETS menyebabkan 150.000-300.000 infeksi pernafasan pada bayi dan anak-anak di bawah usia 18 bulan. Penyakit ini mengakibatkan 15.000 kasus harus dirawat di rumah sakit. Anak dari orangtua perokok setengah pak rokok sehari atau lebih berisiko dua kali lipat harus dirawat di rumah sakit karena penyakit pernafasan.

Paparan ETS meningkatkan angka infeksi telinga yang akan dialami oleh anak-anak, dan bertambahnya durasi penyakit ini. Bernafas dengan asap rokok mengiritasi pembuluh eustachio yang terkait dengan bagian belakang hidung dan tengah telinga. Ini menyebabkan pembengkakan dan gangguan tekanan pada bagian tengah telinga, sehingga menyebabkan rasa sakit, mengeluarkan cairan, dan infeksi. Infeksi telinga merupakan penyebab utama kehilangan fungsi pendengaran pada anak-anak. Jika tidak segera mendapatkan perawatan medis, maka operasi pembedahan jaringan pembuluh telinga hanya akan menjadi jalan keluar.

Sedangkan efeknya pada otak anak-anak, dari ibu perokok selama masa kehamilan adalah sang anak akan mengalami masalah perilaku seperti menjadi hiperaktif dibandingkan anak-anak yang ibunya bukan perokok. Menjadi rendah diri di sekolah baik dalam kegiatan maupun intelektual juga telah terbukti sebagai salah satu akibat. Perokok pasif juga menyebabkan kanker 100 kali lebih besar. ETS menyebabkan 3.000 kasus kanker paru-paru yang mereka bukanlah perokok setiap tahunnya. Akhirnya peringatan ini cukup menjadi alarm bagi semua orang, untuk segera berhenti memberikan asap rokok pada anak-anak dan membuatnya berhenti dari menjadi perokok pasif sejak sekarang.
(Abdul Malik/Sindo/mbs)

sumber okezone.com

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: