Kiat Berpuasa Bagi Lansia

5 Februari 2009 pukul 2:50 PM | Ditulis dalam Kesehatan | Tinggalkan komentar

Puasa Ramadhan sebenarnya tidak diwajibkan bagi orang-orang yang telah lanjut usia (lansia), namun dorongan kuat untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan kepada Sang Pencipta justru seringkali membuat para lansia lebih bersemangat menunaikan ibadah puasa dibandingkan mereka yang diwajibkan.

Dr. dr. Siti Setiati SpPD, K Ger MEpid dari Divisi Geriatri Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta mengatakan 91% lansia ingin berpuasa Ramadhan tahun ini dan hanya 9% yang menyatakan tidak akan berpuasa.

“Dari 91% lansia yang ingin berpuasa, 80%-nya yakin bisa berpuasa sebulan penuh. Ini menurut hasil survei yang dilakukan di RSCM pada 2007 terhadap lansia berumur antara 64 tahun hingga 83 tahun,” katanya.

Padahal, menurut dia, tidak seperti penduduk dengan usia yang lebih muda, organ tubuh lansia telah mengalami berbagai penurunan fungsi. Dokter Siti menjelaskan, saat memasuki usia lansia kemampuan tubuh untuk menyerap asupan nutrisi dan cairan menurun sehingga metabolisme tubuh terganggu.

Pada masa itu, ia melanjutkan, jumlah cairan tubuh manusia menurun dari 60% menjadi 45-50% sementara sensasi rasa haus lebih rendah dari sebelumnya sehingga asupan cairan menurun dan berisiko mengakibatkan dehidrasi atau kekurangan cairan. Nafsu makan lansia, menurut dr. Siti, pun umumnya menurun karena faktor sosial, psikologis dan penyakit sehingga status nutrisinya terganggu.

Orang-orang berusia lanjut biasanya juga menderita berbagai macam penyakit dengan gejala dan tanda yang tidak khas.

“Tiap lansia rata-rata menderita empat jenis penyakit, antara lain hipertensi, gangguan kolesterol, ginjal dan rematik,” katanya.

Semua itu menyebabkan para lansia cepat merasa lelah dan lemah serta mudah bingung.

Lantas pertanyaannya, apakah dengan kondisi tubuh yang demikian orang-orang berusia lanjut secara medis masih aman berpuasa?

Jawabannya, menurut dr.Siti, dapat dikatakan aman selama kondisi tubuh lansia yang bersangkutan stabil, penyakitnya terkontrol dan tidak mengalami infeksi akut. Namun agar lansia tetap fit selama berpuasa, ia menyarankan anggota keluarga yang lain untuk mengatur dan memerhatikan pola makan, minum dan aktivitas anggota keluarga mereka yang telah berusia lanjut.

“Pola makan sebaiknya diatur dengan 40% kalori pada saat sahur, 50% kalori saat berbuka dan 10% kalori setelah sahur. Jangan lupa usahakan memberi makanan ringan sebelum shalat magrib dan makanan berat sesudah shalat,” ujarnya.

Dia menambahkan pula bahwa kebutuhan kalori bagi lansia ketika berpuasa dan tidak berpuasa sama, sehingga sebaiknya menu diatur berdasarkan kebutuhan kalori harian untuk lansia. Komposisi gizi pada menu makanan yang disajikan untuk lansia mesti seimbang.

Dia juga menyarankan agar saat sahur dipilih konsumsi minuman teh dan kopi serta makanan yang lebih cepat dicerna seperti gula dibatasi. Lansia, menurut dia, dianjurkan lebih banyak mengonsumsi makanan yang lambat dicerna dan makanan berserat tinggi agar mempunyai lebih banyak simpanan energi untuk menjalankan aktivitas ketika sedang berpuasa.

Konsumsi kurma, menurut dia, juga sangat dianjurkan karena kurma mengandung gula, serat, karbohidrat, kalium dan magnesium yang sangat penting untuk menjaga vitalitas para lansia. Jenis makanan lain yang merupakan sumber kalium, magnesium dan karbohidrat seperti pisang dan makanan yang mengandung vitamin dan mineral tinggi, menurut dia, juga dianjurkan.

Agar lansia tidak kekurangan cairan selama berpuasa, dia menganjurkan agar mereka dipastikan mengonsumsi sekitar 30-50 cc cairan/kg berat badan/hari atau sekitar 8-10 gelas cairan dalam sehari.

“Supaya tidak sampai dehidrasi sebaiknya jadwal minum diatur, misalnya saja dua gelas saat berbuka, tiga sampai empat gelas setelah shalat tarawih sampai sebelum tidur, satu gelas saat bangun tidur sebelum sahur dan satu hingga dua gelas saat sahur,” katanya.

Ia juga menyarankan agar para lansia tidak terlalu banyak mengonsumsi es karena es dapat menahan rasa kenyang dan menurunkan konsumsi makanan yang lengkap.

“Yang harus diingat adalah bahwa kita minum dan makan dengan otak, bukan dengan lidah. Karena kondisi tubuh kita bergantung pada apa yang kita makan,” ujarnya.

Sedangkan berkenaan dengan konsumsi obat-obatan bagi lansia, ia mengatakan, bahwa sebaiknya obat-obatan diberikan pada saat berbuka dan atau sahur.

Dia menambahkan pula bahwa para lansia tidak dianjurkan untuk berpuasa jika kondisi fisik mereka tidak memungkinkan. (*/cax)

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: